• Search
  • Menu
Tentang Kami

Dua Serangkai untuk Petani

 

“Action research” untuk penerapan Panca Usaha Tani lengkap  dilakukan staf Pengajar dan Mahasiswa pada musim tanam tahun 1963. Waktu itu, Toyib Hadiwijaya Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) menyediakan biaya untuk menyelenggarakan “action research”  tersebut.

 

Action research yang dilakukan perguruan tinggi tersebut berhasil. Keberhasilan penerapan panca usaha itu lalu dijadikan kebijakan nasional dengan  mengerahkan 400 Mahasiswa dari 10 Perguruan Tinggi pada musim tanam berikutnya yaitu musim tanam 1964/1965. Namanya diubah bukan action research  lagi, tetapi  Demonstrasi Massal ( Denmas ). Jumlah seluruh areal meningkat menjadi 10.000 hektar tersebar di 10 propinsi utama penghasil  padi. 

 

Tahun berikutnya (1965/1966) Denmas diperluas lagi menjadi 150.000 hektar. Dalam tahun-tahun selanjutnya terus diperluas dan berkembang. Demonstrasi massal (Denmas) dilaksanakan dengan memberi bimbingan kepada para petani mengenai bagaimana menerapkan panca usaha legkap. Selanjutnya kegiatan DemonstrasiMassal diganti namanya menjadiBimbingan Massal ( BIMAS).Pengembangan Bimasmenjadi lebih cepat ketika Prof. Dr. Toyib Hadiwijaya menjadi Menteri Pertanian.

 

Sang Ujung Tombak

 

Pada tanggal 1 April 1969 Pemerintah mencanangkan Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama (REPELITA I).  Dalam Repelita Pertama Sektor pertanian ditetapkan sebagai titik sentral Pembangunan Nasional.

 

 Toyib Hadiwijaya sebagai Menteri Pertanian menyadari kondisi pertanian di awal REPELITA I, baik kualitas dan kuantitas aparat pertanian masih kurang, pengetahuan dan teknologi pertanian masih terbatas, kelembagaan petani-nelayan belum terbentuk dan penyuluhan belum berkembang.

 

Dalam rangka “Improvement and Strengthening of Agricultureal Extension Activities” pada tahun 1970 Menteri Pertanian menambah tenaga penyuluh pertanian dengan mengangkat tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang akan berperan sebagai  ujung tombak pembangunan pertanian di lapangan.  Bersamaan dengan itu Menteri Pertanian menerbitkan  surat kabar Sinar Jaya  (sekarang Sinar Tani ) untuk mendukung para PPL dengan bahan informasi penyuluhan. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Surat Kabar Sinar Tani merupakan  dua serangkai yang utuh.

 

Penyuluh Pertanian dalam melaksanakan tugasnya dibekali dengan bahan informasi melalui Surat Kabar Sinar Tani mengenai kebijaksanaan pembangunan pertanian, teknologi pertanian yang baru, informasi terkait dengan harga, subsidi, ekspor / impor, dan sebagainya. Semua informasi itu akan diolah oleh para Penyuluh Pertanian sebagai bahan penyuluhan pertanian. Dengan selalu tersedianya bahan informasi melalui Sinar Tani pengetahuan dan ketrampilan para Penyuluh Pertanian terus diasah dari waktu ke waktu, sehingga mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.

 

Bahan informasi untuk penyuluhan itu perlu disediakan dan disampaikankepada para Penyuluh Pertanian secara teratur dan terus menerus. Tugas menyampaikan bahan penyuluhan tersebut diamanahkan kepada Sinar Tani.

 

PPL dan Sinar Tani telah lahir menjadidua serangkai. Kelahiran keduanya telah dipikirkan untuk bisa berkembang bersama-sama agar keduanya saling mendukung dan saling mengisi, karena keduanya saling membutuhkan. Penyuluh Pertanian membutuhkan bahan informasi dari Sinar Tani, sebaliknya Sinar Tani membutuhkan pelanggan yang cukup agar bisa menghidupi diri dan mandiri.

 

Poros Informasi dan Teknologi

 

Sinar Tani menjadi poros atau sumbu penghubung antara aparat (kebijakan),  peneliti (teknologi/inovasi), PPL dan petani.       Ada dua tugas utama Sinar Tani untuk itu. Pertama, memperkuat dan memperlancar arus informasi hasil-hasil penelitian Badan Litbang berupa teknologi baru sampai kekonsumen yaitu petani melalui para Penyuluh.  Kedua, menyampaikan berbagai informasi mengenai kebijakan Pemerintah dibidang pembangunan pertanian kepada para Penyuluh untuk diteruskan / disampaikan  kepada para petani.

 

Sejalan dengan itu Sinar Tani juga menjadi  penyedia bahan informasi mengenai petunjuk intensifikasi dan kebijakan pembangunan pertanian. Bahan informasi tersebut dimaksudkan untuk mendukung sekaligus mengasah kemampuan Penyuluh Pertanian yang bertugas sebagai ujung tombak pembangunan pertanian di pedesaan. Muatan Sinar Tani berisi bahan informasi yang dirancang sebagai bahan penyuluhan yang kemudian diolah oleh para penyuluh sebagai bahan penyuluhan untuk berhasilnya program BIMAS.

 

Menembus Ruang dan Waktu

 

Pemikiran dilahirkannya dua serangkai PPL dan Sinar Tani secara utuh oleh  Toyib Hadiwijaya menunjukan bagaimana beliau mampu berpikir jauh kedepan menembus ruang dan waktu. Saat itu belum ada Koran atau media cetak yang terbit hanya melayani salah satu sektor saja seperti Sinar Tani. Ternyata beberapa tahun kemudian baru muncul media cetak yang hanya melayani salah satu sektor, bahkan sekarang ini banyak media cetak yang melayani hanya satu sekmen misalnya sekmen olah raga, sekmen hobies dsb.

 

Dalam era otonomi daerah sekarang ini informasi dari pusat ke lapangan tidak mudah, karena adanya sekat-sekat otonomi Propinsi, kemudian sekat otonomi Kabupaten. Tetapi ternyata Sinar Tani bisa menembus sekat sekat otonomi tersebut langsung dari pusat ke PPL di lapangan.

 

Tidak hanya itu,  kehadiran Sinar Tani di seluruh pelosok tanah air dimana PPL berada dinilai oleh Menteri Perhubungan sebagai salah satu pemersatu bangsa. Sehingga PT. POS diminta oleh Departemen Perhubungan yang pada waktu itu Menterinya Agung Gumelar untuk memberikan “ semacam subsidi ongkos kirim” Sinar Tani keseluruh pelosok tanah air.