• Search
  • Menu
Read Detail

e-Paper Tabloid Sinar Tani -Geliat Lumbung Pangan di Perbatasan

15:08 WIB | Tuesday, 08-August-2017

e-Paper Tabloid Sinar Tani -Geliat Lumbung Pangan di Perbatasan

 

Tidak ada sesuatu yang lain selain mewujudkan mimpi untuk menciptakan sebuah masa depan. Tulisan Victor Hugo, salah satu penulis Prancis terkenal itu sepertinya juga menginspirasi Kementerian Pertanian untuk memajukan pertanian di kawasan perbatasan yang lebih maju dan menyejahterakan.

 

Presiden RI Joko Widodo dalam Program Nawacitanya berkomitmen membangun Indonesia dimulai dari daerah pinggiran atau perbatasan. Di bi­dang pembangunan pertanian, Men­teri Pertanian Amran Sulaiman menggalang program membangun Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di kawasan perbatasan (LPBE-WP).

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Mo­mon Rusmono, melalui program “Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor” (LPBE-WP), Kementan berupaya meningkatkan kapasitas produksi pangan dan daya saing pangan di wilayah perbatasan. “Sehingga wilayah tersebut mam­pu mencukupi pangannya sendiri bahkan bila berlebih dapat di ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia,” katanya saat memberikan sambutan pada Pertemuan Teknis Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat (2/8).

Secara nasional setidaknya ada enam wilayah perbatasan yang digarap Kementerian Pertanian agar menjadi Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor Nasional. Keenam wilayah itu adalah wilayah perbatasan Prov. Riau dan Kepulauan Riau ditargetkan bisa memasok pangan ke pasar Singapura dan Malaysia. Wilayah perbatasan Prov. Kalimantan Barat dan Utara memasok pangan ke pasar Sabah, Serawak dan Brunei. Wilayah perbatasan Prov. Sulawesi Utara memasok pangan ke pasar Filiphina dan Republik Palau.

Wilayah perbatasan lainnya adalah wilayah perbatasan Prov. Papua ditugasi memasok pangan ke pasar Papua New Guinea dan Vanuatu. Wilayah perbatasan Prov. Nusa Tenggara Timur memasok pangan ke pasar Timor Leste dan Australia.

“Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu wilayah perbatasan yang memiliki potensi sumber daya pertanian sangat besar baik tanaman pangan, perkebunan maupun peternakan,” jelas Momon Rusmono. 

Kondisi saat ini, di wilayah perbatasan Kalbar usaha pertaniannya masih dikelola secara terbatas. Meski demikian hasil pertaniannya seperti beras raja uncak (Kapuas Hulu), beras hitam (Bengkayang) dan Beras Merah (Sanggau) sudah diperdagangkan secara tradisional ke Sarawak Malaysia, termasuk komoditas lainnya seperti lada, kakao dan pisang. 

Modern dan Terpadu

Program lumbung pangan berorientasi ekspor di wilayah perbatasan Kalimantan Barat lanjut Momon Rusmono juga ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengurangi kesenjangan kesejahteraan antar wilayah dan pendapatan di wilayah perbatasan. Kementerian Pertanian mengembangkan di enam lokasi prioritas di kawasan perbatasan Kalbar, yaitu Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu, Landak dan Sanggau.

Pengembangan Lumbung Pangan Berorientasi Ekspor di Wilayah Perbatasan Kalimantan Barat dilakukan dengan mem­bangun sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan melalui pendekatan kawasan. 

Program-programnya meliputi; (1) Peningkatan produktivitas dan indek pertanaman melalui perbaikan/pembangunan jaringan irigasi, pemanfaatan varietas unggul, peningkatan penggunaan pupuk organik, pengendalian hama terpadu dan peningkatan intensitas penyuluhan pertanian; (2) Pembukaan lahan baru; (3) Peningkatan kualitas hasil produksi; (4) Pengurangan kehilangan hasil panen; dan (5) Peningkatan kapasitas petani dan penguatan kelembagaan ekonomi petani. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi