• Search
  • Menu
Read Detail

Kasus Beras Kemasan, Mencari Untung di antara Dua Derita

09:43 WIB | Tuesday, 08-August-2017

Oleh: Andi Nur Alamsyah – Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

 

Namanya Mashuri, Petani Di desa Karangtengah, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, sejak pagi dia rela berlumur lumpur di sawah demi memelihara padinya. Setelah, Dzuhur tiba diapun bergegas pulang untuk makan siang apa adanya dan sholat, menjelang sore kadang-kadang ia pun kembali melihat padinya. Kucuran keringat, perih dan letih tak pernah dihiraukan, yang penting padi berproduksi baik.

 

Perjuangan itu terus berjalan seiring waktu, hingga hari ke 120, wajahnya berseri-seri karena padinya akan segera berganti duit. Namun sayang, kadang perjalanan usaha taninya tak begitu mulus, ada hama yang siap menghadang, atau bahkan meluluhlantakan usahanya. Inilah potret petani padi Indonesia yang diwakili oleh Mashuri, jika beruntung maka uang akan dikantongi, tetapi kalau buntung hutang siap ditanggung.

 

Derita petani padi ini tidak banyak diketahui konsumen, mereka hanya melihat padi sudah berubah menjadi beras tanpa mau peduli bagaimana jerih payah petani berjuang demi konsumen. Lantas, di tingkat konsumenpun apa tidak ada masalah? Jawabnya tidak. Jika harga beras melambung tinggi, konsumen  menjerit, kalau harga turun drastis petani menderita.

 

Masih pada level kosumen, tidak semua konsumen itu berduit. Ingat, status ekonomi masyarakat kita sangat beragam, bahkan ada yang dikategorikan sebagai masyarakat miskin. Kendati mereka miskin, mereka juga harus tetap makan beras.

 

Dua pokok masalah ini telah menjadi kunci pemerintah untuk hadir di tengah-tengah petani menjalankan roda birokrasinya. Pemerintah harus mampu melindungi dua masalah itu. Petani menjual dengan harga yang menguntungkan (sesuai ketentuan), konsumen membeli beras dengan harga yang wajar (juga sesuai dengan ketentuan). Inilah nafas keberpihakan Kementerian Pertanian yang dinahkodai oleh Dr. Andi Amran Sulaiman saat ini.

 

Melihat terjadinya disparitas harga yang dilakukan oleh sekelompok usaha sangat disayangkan. Para pelaku ini tidak terketuk hatinya melihat derita petani dan jeritan konsumen. Ingat di dalam produksi beras milik petani itu banyak subsidi yang disiapkan pemerintah. Tujuannya, harga yang diterima petani itu menguntungkan dan mampu menopang kesejahteraan petani, serta harga yang diterima konsumen adalah harga yang wajar.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066