• Search
  • Menu
Read Detail

Ari Ginanjar: Wujudkan Lumbung Pangan, Harus Ciptakan Generasi Berkarakter

13:54 WIB | Monday, 17-July-2017

Lumbung pangan dunia menjadi satu cita-cita pemerintah Indonesia. Targetnya saat usia ke 100 tahun atau tepatnya Tahun 2045, Bangsa Indonesia berhasil mewujudkannya.

 

Nah untuk mencapai target tersebut menurut Leader ESQ, Ari Ginanjar Agustian, perlu mencetak generasi muda petani yang berkarakter modern, yakni dengan membentuk karakter yang sesuai visi dan misi. Karena itu untuk membentuk suatu personal yang sesuai dengan visi dan misi Indonesia ‘Indonesia Emas’, generasi muda harus memiliki semangat kerja yang tinggi, integritas, disiplin, dan inovatif.

 

Ada tiga hal yang harus dipegang, yakni kompeten, karakter, dan tingkah laku. Sebab, paling menentukan sesorang mencapai kesuksesan adalah karakter. Berdasarkan survey, kesuksesan 80%-nya didapat dari karakter orang tersebut.

 

“Makanya kita ingin mencoba membantu memunculkan generasi muda pertanian agar dapat menghadapi persaingan di era VUCA (volatility, uncertainity, complexity, dan ambiguity). Sehingga mereka mempunyai ide besar terhadap kemajuan pertanian Indonesia,” tutur Ary.

 

Sementara itu Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono saat membuka Leadrship Training 2017 Mempersiapkan Generasi Muda Pertanian Wujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045 di Jakarta, Senin (17/7) mengatakan, masalah pangan adalah masalah pangan yang paling krusial, sehingga menjadi perhatian negara.

 

Hari mengingatkan, hampir di seluruh dunia kini sedang mengalami krisis pangan, bahkan negara-negara di Eropa pun pangannya sedang terganggu. “Pangan ini masalah yang paling hakiki, jadi apa pun akan dilakukan agar tidak terjadi kekurangan pangan. Bahkan negara-negara maju saja kalau sudah berhubungan dengan masalah pangan, menjadi permasalahan yang paling krusial,” ungkapnya.

 

Menurutnya, dengan terjadinya perubahan iklim, membuat seluruh masyarakat di dunia, terutama petani menjadi kebingungan. Banyak terjadi kegagalan panen di beberapa negara. Karenanya impor pangan merupakan jalan yang paling sering dilakukan negara.

 

“Memang ekonomi dapat tumbuh tinggi dengan pangan yang cukup, tetapi jika pondasinya tidak kuat akan mengakibatkan ketergantungan impor. Kita harus memperkuat pertanian kita agar tidak ketergantungan impor pangan,” ucap Hari.

 

Untuk menciptakan pertanian yang kuat, Hari melihat, bukan hanya petaninya yang dibina, melainkan pemangku-pemangku kepentingan di bidang pertanian. Misalnya, aparat negara di bidang pertanian harus dibina dan diberikan motivasi agar mau bekerja sesuai dengan apa yang dicita-citakan negara.

 

“Kita harus membina dari aparat negara di bidang pertanian dulu agar kinerjanya sesuai dengan visi yang kita pegang, yakni memperkuat pertanian Indonesia agar kedepannya menjadi lumbung pangan dunia,” tegas Hari. Cla

 

Editor : Yulianto