• Search
  • Menu
Read Detail

Budidaya Kedelai Non Sawah, Solusi di Tengah Persaingan Lahan

08:51 WIB | Wednesday, 14-June-2017

Kedelai menjadi satu dari tiga komoditi tanaman pangan setelah padi dan jagung yang mendapat perhatian khusus pemerintah. Apalagi produksi bahan baku kedelai ini selalu fluktuatif alias naik-turun.

 

Catatan Ditjen Tanaman Pangan, rata-rata produksi kedelai pada periode 2011-2013 sebesar 824.810 ton meningkat menjadi 934.580 ton pada periode 2014-2016 atau naik 109.770 ton (13,31%). Peningkatan produksi kedelai tak lepas dari dukungan program pemerintah.

 

Namun harus diakui, produksi kedelai dalam negeri memang belum mampu memenuhi kebutuhan industri, terutama tahu-tempe. Upaya menggenjot produksi kedelai pun tak mudah, karena harus bersaing dengan padi dan jagung dalam penggunaan lahan sawah. Dengan insentif lebih menarik, petani lebih memilih menanam dua komoditi tersebut ketimbang kedelai.

 

Satu cara agar produksi kedelai tetap melaju, pemerintah mulai melirik pengembangan kedelai di lahan non sawah. Potensi perluasan pengembangan lahan kedelai sebenarnya cukup besar. Data Kementerian Pertanian ketersediaan lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman bahan baku tahu tempe ini mencapai 3.432.864 hektar (ha).

 

Lahan tersebut tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. Di beberapa wilayah Jawa, sudah dikembangkan budidaya kedelai di kawasan hutan. Misalnya, di Jawa Timur, petani menanam kedelai di lahan hutan jati dengan sistem tumpang sari.

 

Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, petani di Desa Sanca bercocok tanam kedelai di kawasan hutan milik Perum Perhutani. Petani yang tergabung dalam Gapoktan Sanca Jaya sudah sejak tahun 2008 menanam kedelai di antara pohon kayu putih milik Perhutani. 

 

Di Aceh, tepatnya Kabupaten Aceh Tengah, Kecamatan Linge budidaya tanaman kedelai di lahan kering hutan pinus. “Hutan pinus di Linge sangat luas, beratus-ratus hektar, tapi lahan yang dimanfaatkan untuk tanam kedelai hanya 200 ha,” kata Penyuluh Pertanian Aceh Tengah, Fathan Muhammad Taufik.

 

Meski ditanam lahan kering, ternyata produktivitasnya mencapai 1,2-1,5 ton/ha, tidak kalah dengan yang ditanam di lahan sawah 1,5 ton/ha. Bukan hanya itu, menurut Fathan, ternyata budidaya kedelai di lahan kering hutan pinus lebih cepat dibandingkan di lahan sawah. Masa tanam kedelai di lahan kering hanya perlu waktu 120-130 hari sudah bisa panen, sedangkan di lahan sawah bisa mencapai 140-145 hari.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066