• Search
  • Menu
Read Detail

Kuntoro Boga Andri: Menginovasi Potensi Menjadi Keunggulan Ekonomi

09:40 WIB | Thursday, 08-June-2017

“Lahan gambut di Riau bisa berubah menjadi kiblat pangan nasional asalkan kita tepat memilih inovasi yang spesifik dan sesuai dengan kondisi lahannya” begitu kata Kuntoro Boga Andri, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau yang baru enam bulan menjadi pimpinan di balai ini.

 

Pak Boga, begitu panggilan akrabnya mengisyartakan bahwa kehadiran teknologi yang tepat dan arif adalah harga mati untuk membangun pangan di lahan gambut. “tantangan berat berupa hambatan alam gambut harus disikapi secara bijaksana dan kunci keberhasilan adalah management inovasi yang tepat, sehingga aspek ekonomi pangan bisa terbangun dan kelestarian lingkungan terus berlanjut”.

 

Sebagai seorang ahli social ekonomi pertanian, dia sangat yakin potensi gambut yang ada di Riau adalah peluang untuk memposisikan tanaman pangan sebagai komoditi ungulan setelah kelapa saiwt.

 

Untuk menjawab tantangan itu, BPTP Riau telah menyiapkan seperangkat inovasi teknologi yang telah dilakukan seleksi sesuai dengan karateristik lahannya. Strategi yang ditempuh adalah mengedepankan pengawalan penerapan inovasi teknologi pada tingkat petani, memberikan contoh berupa demfarm sehingga memotivasi petani untuk menerapkan teknologi yang sesuai anjuran.

 

Pengewalan inovasi ini, Menurut Boga bisa kita saksikan di petani yang berada disekitar Taman Teknologi Pertanian (TTP) Siak yang sudah akrab dengan varietas Unggul Baru Balitbangtan, sisitem penanaman yang telah menggunakan cara Jarwo Super.

 

Lahan gambut adalah ekosistem marginal dan fragile, sehingga dalam pemanfaatannya harus didasarkan atas penelitian dan perencanaan yang matang, baik dari segi teknis, sosial ekonomis maupun analisis dampak lingkungannya. Tipe penggunaan lahan gambut harus mengacu pada kapabilitas dan kesesuaian lahan agar diperoleh hasil optimal dan berkelanjutan.Sifat fisik gambut, berpengaruh langsung terhadap tingkat pengelolaan untuk penggunaan lahan tertentu.

 

Selain aspek ekonomi, penggunaan lahan gambut dihadapkan pada isu lingkungan, baik pada tingkat lokal (berupa subsiden dan kebakaran), nasional, maupun global (emisi GRK dan kehilangan keanekaragaman hayati). Untuk itu, pengelolaan lahan gambut ke depan harus lebih selektif agar selain dapat menghasilkan pangan, minyak nabati dan serat, juga harus dapat menjaga kelestarian ekosistem.

 

Pengelolaan lahan gambut saat ini diprioritaskan pada optimalisasi lahan gambut yang telah dibuka yang berada dalam keadaan terlantar. Teknologi penataan dan pengelolaan usahatani di lahan gambut selain ditujukan untuk meningkatkan produktivitas lahan, juga harus mampu menekan laju penurunan fungsi lingkungan dari lahan gambut tersebut. Beberapa upaya yang dapat dilakukan di antaranya adalah: pengelolaan air, pemanfaatan sumberdaya genetic local, pencegahan kebakaran lahan, ameliorasi tanah, serta rehabilitasi lahan gambut.

 

Inovasi Spesifik

 

Dia bercerita, secara alamiah lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik yang sebagian bersifat  racun bagi tanaman. Namun demikian asam-asam tersebut merupakan bagian aktif dari tanah yang menentukan kemampuan gambut untuk menahan unsur hara.

 

Pemanfaatan lahan gambut untuk usaha pertanian, didahului dengan tindakan reklamasi, dilakukan dengan pembuatan saluran drainase untuk membuang air berlebih sehingga tercipta lingkungan tanah yang cocok untuk tanaman tertentu.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066