• Search
  • Menu
Read Detail

Pati, Bakal Jadi Sentra Itik Penyuplai Jabodetabek

16:29 WIB | Monday, 05-June-2017

Kabupetan Pati selama ini lebih terkenal dengan industri kacang kulit. Setidaknya ada dua industri kacang kulit yang berada di kabupaten tersebut. Tapi ternyata wilayah di Pantai Utara Jawa Tengah ini merupakan sentra ternak itik, bahkan siap menjadi pemasok ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

 

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Agus Wariyanto mengatakan, Kabupaten Pati mempunyai potensi untuk mengembangkan sentra peternakan itik nasional yang dapat menyuplai untuk wilayah Jabodetabek.

 

“Saya berharap Kabupaten Pati ini dapat berkembang menjadi pusat agribisnis peternakan itik, dari hulu sampai hilir hingga tumbuh pusat-pusat kuliner spesial itik,” katanya di sela-sela kunjungan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, beberapa waktu lalu.

 

Karena itu Agus mengapresiasi adanya penandatangan MoU tentang Pengembangan Peternakan Itik di Kabupeten Pati antara PT. Putra Perkasa Genetika dengan CV. Rafindo Agro Makmur. “Saya berharap kerjasama ini dapat menjadi center of excelent untuk memanfaatkan teknologi dan inovasi dalam pengembangan itik, sehingga mempunyai kualitas ekspor,” katanya.

 

Kerjasama tersebut delam bentuk kemitraan. Pola ini akan dikawal dan dievaluasi. Jika hasilnya bagus, maka pola tersebut akan menjadi pecontohan. Dalam pola tersebut ada inovasi dan pembiayaan dari perbankan, sehingga diharapkan dapat memangkas biaya operasional yang tidak efisien.

 

Populasi itik di Jawa Tengah saat ini sebanyak 5 juta ekor. Kabupaten Pati berada pada peringkat lima. Namun pertumbuhannya sangat cepat karena peningkatan populasi mencapai 5% per tahun.

 

Sementara itu Wakil Bupati terpilih Kabupaten Pati, Saiful Arifin mengatakan, pihaknya tengah merancang Pati sebagai sentra peternakan itik nasional. Untuk itu, akan disiapkan 200 desa yang mengembangkan peternakan itik. Masing-masing desa ada 10 peternak. Tiap peternak membudidayakan itik pedaging sebanyak 500-1000 ekor, sehingga nantinya akan memproduksi sekitar 1 juta ekor/periode atau 12 juta ekor/tahun.

 

“Kita semua akan bekerjasama dengan peternak, sehingga peternak dapat bekerja dengan baik. Kami juga membantu peternak menyiapkan pasar, sehingga peternak itik bangkit dan termotivasi untuk terus menaikkan produksi,” tuturnya.

 

Menurut Saiful, dalam pengembangan itik ini, pihaknya juga menggandeng PT. Putra Perkasa Genetika (PPG) dari Gunung Sindur, Bogor untuk memenuhi kebutuhan Day Old Duck (DOD). PPG adalah mitra dari Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian yang sebelumnya telah menerima sertifikasi lisensi itik Master dan  PMP. Kedua jenis itik tersebut merupakan hasil penelitian, pemurnian dan seleksi yang dilakukan oleh peneliti Balitnak (Balai Pengembangan Peternakan) di Ciawi.

 

Peternak Itik di Pati, Solihin menyampaikan, Pati sudah pernah menjadi juara 2 untuk pembibbitan tingkat nasional. Sayangnya untuk pemasaran masih terhalang pihak karantina karena harus ada Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). “Peternak mengalami kesulitan menguji kesehatan hewan karena belum ada laboratorium kesehatan hewan di Pati, sehingga peternak meminta untuk dibangun laboratorium keswan di kabupaten Pati,” tuturnya.

 

Sementara Ade Zulkarnaen, Ketua Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia) menilai, pola usaha peternakan itik tradisional saat ini masih belum menerapkan sistem kompartemen, sehingga sifatnya masih tradisional dan tidak bisa bersaing. Yul

 

Editor : Yulianto