• Search
  • Menu
Read Detail

Mengatur Rantai Pasar untuk Stabilisasi Harga Pangan

09:24 WIB | Tuesday, 30-May-2017

Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga pangan yang tinggi dari komoditi pangan strategis seperti Bawang merah, daging sapi, daging ayam, gula pasir dan lainnya.

 

Namun, upaya penurunan harga dengan berbagai cara itu, menemui berbagai kesulitan. Dicarilah “kambing hitam” penyebabnya, yaitu panjangnya mata rantai pemasaran komoditi pangan strategis itu dari petani produsen hingga konsumen.

 

Sinyalemen klasik itu sepintas mudah dipahami, sehingga dalam rangka membentuk harga yang wajar dan stabil, harus ada upaya dari semua pihak untuk memangkas sebagian mata rantai itu. Tetapi keputusan untuk menjadikan pelaku usaha dimata rantai distribusi itu sebagai “penyebab utama” harus hati-hati pula. Para pelaku perdagangan itu sudah lama ada dan mereka bekerja berdasarkan kaidah umum perdagangan yang sudah berjalan puluhan bahkan ratusan tahun. Itu pekerjaan yang sah.

 

Kalau ada yang “nakal” di antara mereka sehingga memperkaya diri sendiri dan merugikan pihak lain dalam mitra dagangnya, itu yang harus diluruskan. Caranya, harus masuk ke sistem perdagangan yang telah terbentuk lama itu, lalu secara perlahan tapi pasti dimasukkan pola yang benar. Tetapi kalau harga tinggi itu karena pasokan kurang, para pelaku itu tidak bisa disalahkan.

 

Mari mengambil contoh yang terjadi pada komoditi Bawang merah yang akhir-akhir ini menjadi “bintang” dalam berbagai pembicaraan. Di Brebes, petani (1) menanam kebanyakan dibeli pedagang kecil/penebas desa (2), diproses menjadi bawang merah rogolan dijual kepasar desa kepada pedagang pengepul (3) dikirim kepedagang besar dipasar induk

 

(4) dibeli oleh pedagang pengecer (5) di pasar lingkungan dijual kepada konsumen (6). Jadi mata-rantai pemasarannya ada empat. Karena banyak yang terlibat, tentu akan banyak biaya dan laba yang diambil ditiap mata rantai, yang menyebabkan harga sampai konsumen tinggi. Lalu siapa yang patut dijadikan sebagai penyebab dalam tingginya harga bawang merah?.

 

Sebelum menelusuri setiap pelaku tersebut, sebenarnya terbentuknya harga itu ditentukan siapa? Apakah mulai dari petani, atau mulai dari pelaku pasar. Kalau dari petani, idealnya menggunakan pertimbangan BEP + keuntungan lalu jadilah harga, agaknya tidak. Karena para petani belum sampai berfikir sejauh itu.

 

Kalau yang terjadi selama ini harga selalu terbentuk dari pasar yang diakibatkan oleh imbangan pasokan dan permintaan. Tetapi pasar yang mana? Apakah pedagang kecil/penebas, pedagang pengepul di pasar desa (pemasok pasar induk), pedagang pasar induk atau pedagang pengecer?.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066