• Search
  • Menu
Read Detail

e-paper Tabloid Sinar Tani - Bawang Merah Biji Produksi Tinggi dan Lebih Hemat

10:51 WIB | Tuesday, 30-May-2017

e-paper Tabloid Sinar Tani  - Bawang Merah Biji Produksi Tinggi dan Lebih Hemat

 

Budidaya bawang merah di Indonesia umumnya masih menggunakan umbi. Namun dengan perkembangan teknologi, ternyata kini bisa dilakukan dengan menggunakan biji.

 

Aplikasi teknologi budidaya bawang merah dari biji bisa dibilang lebih hemat ketimbang menanam bawang merah dengan umbi. Keuntungan lainnya, produktivitas menanam bawang merah dengan biji juga lebih banyak. Bukan hanya itu, tanaman lebih tahan penyakit. 

 

Kalkulasi Direktur Utama PT East West Seed Indonesia (EWSI) Glenn Pardede, petani yang menanam bawang merah dengan umbi memerlukan benih sebanyak 1,5 ton umbi/hektar (ha). Biayanya mencapai Rp 45 juta-Rp 60 juta. Sedangkan jika petani menggunakan benih biji hanya perlu sekitar 15 kg/ha dengan biaya sekitar Rp 30 juta- 35 juta. Artinya, harga benih bawang biji lebih murah ketimbang benih umbi. 

Selain harganya lebih murah, menurut Glenn, petani yang me­manfaatkan budidaya bawang merah dengan bijinya juga lebih untung. Sebab, produktivitasnya lebih tinggi dibanding bawang merah yang ditanam secara kon­vensional (umbi). “Petani yang menanam bawang merah dengan bijinya, rata-rata produksinya mencapai 20 ton/ha,” katanya.

Glenn bercerita, pernah ada salah satu petani yang menanam bawang merah dengan biji sempat mencetak produktivitas bawang merah hingga 27 ton/ha. Padahal petani yang menanam bawang merah dari umbi hanya dapat 10 ton/ha.

Menurut Glenn, kelebihan lain petani yang membudidaya bawang merah dengan biji adalah tanaman lebih tahan penyakit. Beda dengan bawang merah yang ditanam dari umbi, kerap kali terserang virus dan jamur seperti Fusarium sp., Colletotrichum sp., Alternaria sp. 

“Benih dari umbi bawang merah hanya tahan 2-4 bulan. Sedangkan benih dari biji bawang merah bisa tahan sampai 2 tahun. Bahkan, kalau benih tersebut disimpan dengan lebih baik lagi bisa tahan antara 5-10 tahun,” tuturnya.

Selain lebih menguntungkan, petani juga bisa melakukan di­versifikasi usaha pertanian. Petani bisa mengkhususkan untuk mengem­bangkan penyemaian bi­­ji bawang merah. Petani juga bisa mengkhususkan untuk mem­­besarkan. “Petani bisa saja mengambil segmen kedua-duanya. Sebab, teknologi pembenihan bawang merah dari biji ini memang perlu penyemaian selama 40 hari. Setelah disemai, baru ditanam di sawah. Selama 60 hari baru dipanen,” katanya.

 

Ragam Varietas

Sebagai salah satu perusahaan yang telah mengembangkan be­nih bawang merah biji, Glenn mengatakan, pihaknya telah me­lepas varietas bawang biji sejak 11 tahun lalu, salah satunya varietas Tuk Tuk. Varietas tersebut kini sudah merambah ke sejumlah petani di pelosok Tanah Air. 

Varietas ini dikembangkan di sentra- sentra baru bawang merah seperti Sumatera Barat, Riau dan Aceh. Sedangkan di Jawa yang banyak mengembangkan adalah di Grobogan, Tangerang, bahkan di sentra bawang Brebes. “Umumnya pengembangan varietas Tuk Tuk ditularkan melalui petani-petani yang secara langsung dan sukes menggunakan benih bawang dari biji,” katanya.

Namun  menurut Glenn, va­rietas Tuk Tuk lebih cocok ditaman saat musim kemarau. Artinya, Tuk Tuk lebih tahan terhadap kekeringan. Butiran atau umbi bawang merah dari varietas Tuk Tuk relatif cukup besar.

Lantaran Tuk Tuk hanya cocok ditanam di musim kemarau, PT EWSI pada tahun 2011 merilis varietas benih bawang dari biji yang tahan terhadap air hujan bernama Sanren. Varietas ini umbi bawangnya lebih kecil di­bandingkan pendahulunya Tuk Tuk. Varietas ini juga ta­han terhadap penyakit dan pro­duksinya tinggi. “Harga benih bawang merah Sanren hanya Rp 1,5 juta/kg. Jadi, kalau satu hektar paling hanya mengeluarkan biaya untuk beli benih sebanyak Rp 7 juta,” katanya.

Selain Sanren, PT EWSI juga memproduk varietas benih ba­wang merah biji bernama Lo­kananta. Varietas benih bawang merah ini baru dirilis tahun 2016 lalu. Kelebihan varietas bawang tersebut adalah tahan terhadap hujan. “Umbi bawang yang di­hasilkan varietas ini tak terlalu besar dan tak terlak kecil, atau sedang,” ujarnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi