• Search
  • Menu
Read Detail

Menengok Program LTT dan Sergap di Sunda Kecil

11:38 WIB | Wednesday, 24-May-2017

Program Luas Tambah Tanam (LTT) dan Serapan Gabah Petani (Sergap) menjadi salah satu upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mempertahankan swasembada pangan. Program tersebut pun nampak terasa di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

 

NTB adalah sebuah provinsi di Indonesia yang berada dalam gugusan Sunda Kecil dan termasuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi yang memiliki 10 Kabupaten/Kota di awal kemerdekaan Indonesia, termasuk dalam wilayah Provinsi Sunda Kecil dengan ibu kota di Singaraja. Dalam perkembangannya Provinsi Sunda Kecil dibagi menjadi tiga provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

 

LTT dan Sergap memang menjadi perhatian serius pemerintah. Bahkan Panglima Daerah Militer (Pangdam) IX Udayana turun langsung ke sawah guna memastikan penyerapan gabah sesuai prosedur. Pangdam IX Udayana, Mayor Jenderal TNI Komaruddin Simanjuntak mengatakan, TNI mempunyai komitmen besar mewujudkan Indonesia yang berkedaulatan pangan.

 

Karenanya, TNI melalui Babinsa akan selalu hadir di tengah masyarakat untuk melakukan pendampingan guna bersama-sama mewujudkan kedaulatan pangan. “Kami diberikan waktu selama lima tahun, namun berkat kerjasama pemerintah dan TNI bersama petani yang solid. Baru menginjak tahun kedua, Indonesia sudah bisa swasembada pangan yang dibuktikan dengan tidak ada lagi impor beras dari negara lain,” ungkapnya.

 

Tak hanya pendampingan dalam proses produksi, TNI juga berperan dalam penyerapan gabah bersama Bulog, Dinas Pertanian dan instansi lainnya. Tim Sergap ini bertugas memastikan produksi gabah dari petani dapat terserap sepenuhnya sesuai dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) sebesar Rp 3.700/kg di tingkat petani. “Jika ada yang membeli gabah di bawah HPP atau di atas HPP yang tidak wajar, petani jangan segan untuk melapor kepada Tim Sergap,” tegas Pangdam Udayana.

 

Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB merilis saat ini posisi serapan gabah petani baru mencapai 40% dari target 184 ribu ton. Namun diharapkan serapan itu bisa maksimal saat panen raya Mei-Juni mendatang. Secara nasional, NTB berada di posisi lima serapan gabah. “Kita akan optimalkan terus. Tidak ada alasan program Upaya Khusus (Upsus) swasembada pangan gagal,” kata Pangdam Udayana optimis.

 

Diakui Pangdam Udayana, minimnya serapan gabah tahun lalu menjadi pelajaran. Hal tersebut karena beberapa faktor. Misalnya, banyak beras yang ke luar wilayah NTB untuk memenuhi kebutuhan luar daerah, serapan Bulog tidak maksimal, kemudian petani menjual ke tengkulak.

 

“Saya serius, saya akan tidur di sawah petani. Saya ajak staf saya, saya ajak prajurit saya setiap panen,” tegas Mayjen Komaruddin. Dengan menginap di sawah, jendral TNI penanggungjawab teritorial Bali, NTB dan NTT ini siap bersama jajarannya tidur di area pertanian, mengawal saat proses panen sampai dengan proses serapan Bulog.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066