• Search
  • Menu
Read Detail

PG GMM Siap Sumbang Produksi Gula Nasional

10:54 WIB | Tuesday, 23-May-2017

Pabrik Gula (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) Blora siap berkontribusi terhadap peningkatan produksi gula nasional. Tahun ini perusahaan yang telah diambil alih Perum Bulog itu akan memproduksi gula sebanyak 42 ribu ton.

 

General Manager PT. GMM, Bambang Subekti mengatakan, sejak mulai giling tebu awal Mei lalu kemampuan produksi sudah mencapai 4.000 TCD (ton cane per day) dari total kapasitas 6.000 TCD. Karena itu dengan perkiraan waktu kerja selama 150 hari, produksi gula dari GMM akan mencapai 42 ribu ton.

 

"Sekarang ini kita tata betul bagaimana agar pasokan tebu dari petani bisa berjalan dengan baik," kata Bambang di sela-sela kunjungan wartawan di Blora, Senin (22/5). Bambang mengakui, meski pabrik gula GMM masih relatif baru, tapi dari sisi produksi bisa berjalan optimal. Misalnya, pada tahun 2015, rendemen gula PG GMM sudah mencapai 8,3%, sementara PG lain di Jawa Tengah hanya sekitar 7,3%. Begitu juga tahun 2016, saat terjadi anomali iklim meski rendemen turun jadi hanya 6,7%, tapi masih lebih tinggi dari PG lain yang juga turun menjadi 5,7%.

 

Tingginya rendemen tersebut menurut Bambang, karena manajemen PG GMM menerapkan kebijakan standar terhadap bahan baku yang masuk ke pabrik. Yakni, tebu harus MBS (manis, bersih dan segar). "Selama ini petani di Blora, petani masih memproduksi secara asal-asalan," katanya.

 

Ternyata lanjut Bambang, dengan proses edukasi, petani mulai bisa menghasilkan tebu yang MBS. Perusahaan juga membuat pos pantau di 10 titik untuk 'menangkap' tebu yang MBS. "Kalau tidak sesuai kualitas yang  ditetapkan, kita akan tolak," katanya.

 

Gaet Petani

 

Bambang mengatakan, untuk bisa memproduksi tebu sebanyak 42 ribu ton diperlukan tebu sekitar 600 ribu ton. Jumlah tebu tersebut berasal dari lahan seluas 8.700 ha. Saat ini lahan di Blora seluas 2.800 ha. "Sisanya kita terpaksa ambil tebu dari Rembang dan Sragen," katanya.

 

Menurut Bambang, di Rembang ada potensi lahan seluas 10 ribu ha, tapi tidak ada pabrik gula. Sedangkan di Sragen ada potensi seluas 8 ribu ha, tapi tidak ada PG yang besar. "Dengan adanya PG di Blora ini kita harapkan dapat menampung hasil panen petani di Blora, Rembang dan Sragen," ujarnya.

 

Bambang mengatakan, agar pasokan tebu dari petani bisa berjalan lancar, pihaknya melakukan kerjasama dengan petani tebu. Pertama, kerjasama dengan koperasi santri di Blora. Kedua, kerjasama dengan Koperasi Petani Tebu Rakyat Mandiri Tebu. Total areal dari kerjasama itu seluas 3 ribu ha.

 

Untuk membantu petani agar mudah mengirim tebu ke PG GMM, kata Bambang, pihaknya membangun infrastruktur. Misalnya, menambah truk tiper menjadi dua. Truk tiper yakni sistem bongkar muat tebu dengan mengangkat badan truk. Selain itu membangun crane untuk mengangkat tebu dari truk.

 

"Dengan infrastruktur ini bongkar muat tebu menjadi cepat. Truk pun bisa lebih cepat pulang untuk angkut tebu lagi," ujarnya. Bukan hanya itu, manajemen GMM juga memperluas lahan parkir truk pengangkut tebu untuk memudahkan proses bongkar muat.

 

Kebijakan lain untuk menarik petani agar mau memasok tebu ke GMM ungkap Bambang, adalah memberikan mekanisme pembayaran yang berbeda dengan PG lainnya. Jika PG lain dengan sistem bagi hasil, maka GMM dengan sistem beli putus yakni membeli tebu dalam satuan kilogram dengan harga Rp 600/kg.

 

"Jadi kita buat sistem bongkar cepat, bayar cepat. Dalam satu hari sudah selesai pembayarannya," tegasnya. Namun lanjut Bambang, justru petani yang tidak mau dibayar tiap hari, mereka meminta satu Minggu dua kali.

 

PT. GMM juga tiap Minggu mengadakan pertemuan dengan petani untuk membuat kesepakatan. Dengan demikian, petani bergairah mengirim tebu. Jika sebelumnya hanya 300 truk perhari. Sekarang ini hampir 600 truk masuk ke PG GMM. Bahkan pernah mencapai 900 truk.

 

Ke depan ungkap Bambang, pihaknya akan melakukan pengembangan areal. Salah satunya bekerja sama dengan Perhutani, targetnya seluas 4 ribu ha.  Namun dari luas lahan tersebut ternyata yang layak untuk budidaya tebu seluas 1.200 ha. "Kerjasama ini diharapkan nantinya kita tidak tergantung pasokan tebu dari petani luar daerah, khusus Blora," kata Bambang.

 

Tahun 2018, PG. GMM juga menargetkan rendemen gula bisa menembus dua digit atau di atas 10%. Saat ini rendemen baru mencapai 8%. Target ini bukan tanpa alasan, dengan teknologi yang diterapkan PG GMM, angka rendemen dua digit bisa tercapai. Pasalnya rata-rata rendemen PG di luar negeri sudah dua digit. "Proses pembuatan gula pun ramah lingkungan, tidak menggunakan sulfur tapi gas asam arang," katanya. Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066