• Search
  • Menu
Read Detail

Nurhidayah, Raup Jutaan Rupian dari Pekarangan

10:10 WIB | Tuesday, 23-May-2017

Profesi sebagai ibu rumah tangga yang diembannya selama ini tak menyurutkan Nurhidayah untuk menekuni usaha pertanian. Perempuan energik dari Desa Karangan Betih, Kecamatan Kluwah, Kabupaten Tabalong ini sejak 3 tahun silam menekuni usaha budidaya hortikultura, seperti sayur bayam, kangkung, dan sawi.

 

Omset penjualan dari usaha budidaya sayur-mayur di pekarangan rumah dan tegalan ini bisa mencapai Rp 400 ribu/hari. Artinya, dalam waktu sebulan Nurhidayah mendapatkan Rp 12 juta. “Cara budidaya dan merawat sayur-mayur itu lebih mudah. Kalau musim kemarau harus disirami tiap pagi dan sore. Yang panting, kita rawat supaya tumbuh dengan baik,” kata  Nurhidayah di sela acara Penas XV Petani dan Nelayan, di Aceh, Minggu (7/5).

 

Nurhidayah yang juga dipercaya sebagai Ketua Kelompok Tani Wanita Tani (KWT) Suka Maju ini memiliki 20 anggota. Namun, hanya tiga orang yang serius menekuni usaha budidaya sayur-mayur seperti bayam, kangkung, dan sawi di pekarangan rumah dan tegalan.

 

Menurut dia, bayam dan kangkung yang ditanam di pekarangan rumah dan tegalan selama 20 hari bisa dipanen. Sedangkan tanaman sawi bisa dipanen tiap 25 hari. Sayur-mayur yang ditanam itu sudah dirancang agar tiap hari bisa dipanen.

 

“Kita tak langsung menjual ke pasar. Sebab sudah ada pengepul yang datang ke lokasi penanaman tiap hari. Oleh pengepul, sayur-mayur dijual ke pasar yang ada di Kecamatan Kluwah. Bahkan, ada yang dijual sampai ke Kalimantan Tengah,” papar Nurhidayah.

 

Dia menyebutkan,  bayam, kangung dan sawi pada musim kemarau bisa ditanam di lahan gambut. Selain ditanam secara regular, anggota KWT Suka Maju ada juga yang menanam secara organik. “Tapi yang organik tak begitu luas, hanya seperempat hektar,” katanya.

 

Nurhidayah mengaku, sayur organik harganya bisa lebih mahal. Untuk kangkung dan bayam bisa mencapai Rp 8 ribu-10 ribu/ikat. Sementara sayuran non organik seperti bayam hanya Rp 400, kangkung  Rp 400, dan sawi Rp 600/ikat.

 

Berkat ketekunannya dalam mengembangkan budidaya sayur-mayur. Nurhidayah sempat masuk 10 besar lomba budidaya sayur-mayur di pekarangan se Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel). Lantaran, sempat masuk 10 besar, ia bersama kelompoknya bisa mewakili daerahnya mengikuti Penas XV Petani dan Nelayan di Aceh.

 

Nurhidayah mengatakan, selain sayur-mayur, kelompok tani yang dipimpinnya juga mengambangkan tanaman kedelai, jagung dan karet. Bahkan, sejumlah petani ada yang sudah sukses menanam jagung dan kedelai di sela tanaman karet. “Hasilnya cukup bagus dan sangat menjanjikan untuk dikembangkan ke depan,” paparnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066