• Search
  • Menu
Read Detail

Pending Dadih Permana, Petani Jangan Jual Sawah !

10:53 WIB | Monday, 22-May-2017

“Petani jual sawahnya!” Demikian penegasan Direktur Jenderal (Dirjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Pending Dadih Permana, beberapa waktu lalu.

 

Peringatan yang disampaikan Dirjen PSP tersebut cukup beralasan. Kondisi alih fungsi lahan pertanian untuk kegiatan non pertanian kian memprihatinkan. Data menyebutkan konversi lahan pertanian mencapai 100 ribu hektar (ha)/tahun. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka akan mengancam ketahanan pangan.

 

Larangan alih fungsi lahan sebenarnya telah tertuang dalam Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Dalam UU tersebut sudah mengamanatkan daerah untuk menetapkan LP2B dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)-nya. Namun Dadih menyayangkan masih ada kabupaten belum menetapkan LP2B dalam RTRW.

 

Sebagai pejabat yang mendapat tanggungjawab dalam persoalan lahan, bahkan salah satu direktoratnya mengurusi khusus perluasan areal. Karena itu maraknya alih fungsi membuat Dadih sangat prihatin.

 

Meski peraturan pelarangan alih fungsi lahan sudah ada, tapi setiap kabupaten/kota setiap selesai Pilkada mengubah RTRW. Lebih disesalkan lagi, penegakan terhadap peraturan perundang-undangan ini belum dilakukan. “Jadi kita minta komitmen pemerintah daerah,” ujarnya. Guna menahan laju alih fungsi lahan, Dadih meminta Tim Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) harus kuat.

 

Dadih mencontohkan, salah satu kabupaten di Jawa Tengah memiliki lahan pertanian berpengairan teknis seluas 1.800 ha. Karena ada kepentingan lain, Pemda-nya melakukan alih fungsi lahan, lalu mengganti lahan berpengairan teknis tersebut dipindahkan ke lahan lereng tadah hujan.

 

Padahal menurut Dadih, berdasarkan dalam UU No. 41, jika lahan pertanian beririgasi teknis dikonversikan, maka harus diganti tiga kali lipat dari luasan yang dialihfungsikan tersebut. Jika setengah teknis, maka penggantiannya dua kali lipat. Sedangkan lahan kering maka penggantinya satu banding satu. “Saya minta petani jangan mau diiming-imingi harga mahal lalu menjual sawah mereka,” pinta Dadih kepada petani. Tia/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066