• Search
  • Menu
Read Detail

e-paper Tabloid Sinar Tani - Pelajaran Berharga dari Serambi Mekkah

17:42 WIB | Thursday, 18-May-2017

e-paper Tabloid Sinar Tani - Pelajaran Berharga dari Serambi Mekkah

 

Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan Aceh telah berakhir. Banyak pelajaran berharga yang bisa diperoleh petani dan nelayan selama pagelaran akbar di Bumi Serambi Mekkah tersebut.

 

Setelah dibuka Presiden RI, Joko Widodo pada Sabtu (6/5), Penas XV Petani Nelayan, Kamis (11/5) ditutup secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono dan Gubernur Provinsi Aceh, Zaini Abdullah.

Saat penutupan Hari Priyono menyampaikan, bahwa Penas merupakan wahana dan ajang petani dan nelayan untuk me­lakukan tukar informasi dan teknologi pertanian guna mening­katan produksi dan pem­ber­dayaan serta penguatan kelem­­bagaan. Bahkan Hari tak menyangkal lagi bahwa peran petani sangat penting  dalam mempercepatan upaya peningkatkan produksi pangan. “Penas memiliki peran strategis dalam memberikan kesempatan petani meningkatkan peran aktif guna menyongsong peningkatan produksi dan kesejahteraan,” kata­nya.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menambahkan, pelaksanaan Penas XV Petani Nelayan berlangsung sukses, aman dan damai. Penas mampu menyatukan pemangku kepentingan, petani dan nelayan seluruh Indonesia. “Hasilnya, terjadi pertukaran informasi dan teknologi untuk kemajuan pertanian dan perikanan di masing-masing daerah,” ujarnya.

Karena itu Zaini berharap, segala informasi dan teknologi yang didapat di Penas, harus mampu ditularkan kepada petani dan nelayan yang tidak sempat hadir. Dengan begitu, masyarakat secara keseluruhan mampu meningkatkan produksi melakui penerapan teknologi pertanian.

Zaini menganggap, pelaksana­an Penas telah menumbuhkan tiga manfaat besar bagi petani dan nelayan. Pertama, mem­per­mudah akses petani dan nelayan untuk mendapatkan teknologi, jaminan pasar, kredit dan pemangku kepentingan. Kedua, mampu meningkatkan ilmu dan pengetahuan. Ketiga, meningkatkan semangat petani dan nelayan dalam mewujudkan Indonesia yang swasembada pangan. “Untuk itu petani dan nelayan merupakan penggerak utama dalam memajukan perekonomian,” tegasnya.

Sementara itu Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Winarno Tohir mengungkapkan, pelaksanaan gelar teknologi sangat baik diterapkan masyarakat petani di seluruh daerah, khususnya masyarakat Aceh sendiri. Selain itu, pelaksanaan Penas kali ini mampu menciptakan tukar menukar informasi dan teknologi pertanian antar petani dengan petani, petani dengan akademisi atau peneliti.

”Selain pertukaran teknologi, hasil yang diperoleh pada Penas Aceh yakni telah terjadi transaksi pasar lelang komoditas. Dntaranya antara jambu biji, kopi, bawang merah, dan jagung mencapai Rp 16,1 miliar,” ungkap Winarno.

Penas XV Petani dan Nelayan  di Aceh memang diharapkan bisa menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi petani di seluruh Tanah Air. Karena itu, beberapa kegiatan yang berlangsung seperti temu karya, dan gelar teknologi (Geltek) bisa diaplikasi petani nelayan. 

Agar kawasan Geltek seluas 10 ha  bisa dimanfaatkan masyarakat Aceh, panitia Penas XV Petani dan Nelayan berencana mejadikan kawasan tersebut sebagai agro­wisata. “Kita berharap, kawasan Geltek yang sudah kita kembangkan bisa dilanjutkan petani Aceh. Bisa saja nantinya lahannya diambil alih Pemerintah Daerah Aceh menjadi aset negara,” kata Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbang Aceh, Basri A. Bakar.

Eks kawasan Gelter yang letaknya di belakang Stadion Harapan Bangsa memang tak jauh dari kota Banda Aceh. Sehingga, masyarakat Aceh bisa memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat wisata dan pembelajaran yang berkaitan dengan pertanian. “Kawasan tersebut bisa dijadikan pusat edukasi bagi generasi muda dan anak-anak berkaitan dengan pertanian,” tuturnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi