• Search
  • Menu
Read Detail

PENAS XV Wadah Petani Menggunakan Teknologi Informasi Hadapi Pasar Bebas ASEAN

20:26 WIB | Wednesday, 17-May-2017

Pasar bebas ASEAN merupa­kan sistem yang telah disepakati oleh negara-negara yang tergabung dalam Asian South Easth Association Nation (ASEAN) yang bertujuan untuk mengintegrasikan ekonomi nasional ke dalam pasar bebas atau yang dikenal dengan AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang telah disepakati pada tahun 1995. Indonesia sebagai salah satu anggota dari ASEAN yang menyatakan bergabung ke dalam sistem tersebut harus segera mempersiapkan diri untuk meng­hadapi pasar bebas. Salah satu hal yang sangat krusial adalah sumber daya manusia khususnya di sektor pertanian. Indonesia memiliki lebih dari 257 juta penduduk yang akan menjadi pasar potensial bagi produk pertanian dari negara ASEAN lain­nya.

 

Menurut data Kementerian Per­dagangan produk-produk pertania­n Indonesia saat ini yang dapat bersaing di pasar global adalah kopi, kakao, karet dan kelapa sawit. Produk tersebut dapat bersaing karena memiliki kelebihan dan keunikan yang dapat menjadi nilai jual. Dengan fakta tersebut Kementerian Pertanian mendorong peningkatan daya saing produk melalui kebijakan di segala lini, baik dari segi perbaikan infrastruktur pertanian seperti jalan akses produksi, alat-alat pertanian, dan alat-alat pasca panen. Selain itu tidak kalah penting peningkatan sumber daya manusia terutama petani dan penyuluh. Kementerian Pertanian membuat event-event yang menjadi wadah pengenalan teknologi per­tanian dan juga peningkatan kemam­­puan bagi petani, nelayan dan penyuluh salah satunya melalui PENAS.

 

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian sebagai salah satu panitia pelaksana kegiatan PENAS XV pada bidang Kemitraan Usaha dan Jaringan Informasi Agribisnis, seksi pelatihan Pengembangan Jaringan Informasi Agribisnis mengemban tugas untuk memberikan pelatihan bagi petani, penyuluh, nelayan dan stakeholder lingkup pertanian. Pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan wawasan tentang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berbasis komputer. Selain itu peserta pelatihan men­dapat­kan pengetahuan dalam pe­ngem­­bangan jaringan informasi agribisnis antara pelaku usaha dan lembaga-lembaga teknologi infor­masi.

 

Salah satu cara mudah dalam mengembangkan jaringan infor­masi bisnis baik pemasaran, supplier, dan peluang usaha dengan meng­gunakan teknologi berbasis internet. Dengan mengakses infor­masi melalui internet peserta dapat dengan mudah melakukan hal tersebut. Melalui e-commerce peng­guna dapat memasarkan produknya dengan cara melakukan registrasi melalui salah satu perusahaan penyedia layanan e-commerce dan pengguna langsung dapat mengiklankan produknya, Saat itu juga produk tersebut dapat diakses oleh semua orang di seluruh dunia yang terhubung dengan internet.

 

Dengan internet stakeholder yang terkait dengan produksi pangan dapat mengoptimalkan penggunaan internet untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan seperti peningkatan mutu, pemasaran hasil dan budidaya produk, maka diharapkan akan meningkatkan daya jual dan daya saing produk.

 

Pusdatin dalam kesempatan ini membuka kelas pelatihan sebanyak 9 sesi pelatihan yang terbagi menjadi 1 sesi siang (13.00-17.00) di hari pertama dan 2 sesi pada hari-hari berikutnya, yaitu sesi pagi (08.00 – 11.00) dan sesi siang (13.00 – 17.00). Materi yang disampaikan meliputi Pengenalan Internet, Mengenal Email, Pengenalan Aplikasi Sipindo, Simotandi, I-Tani, Agrobizportal dan Portal Multimedia. Dengan adanya pelatihan tersebut para petani diharapkan mendapat pengetahuan dan dapat mengoptimalkan teknol­ogi internet untuk meningkatkan pemasaran maupun tekhnik budi­daya sehingga dapat bersaing di pasar bebas dengan produk-produk unggulannya.

 

Pelatihan ini mendapat respon positif dari petani dan penyuluh. Antusias petani tercermin dari banyaknya peserta pelatihan. Dari 9 sesi pelatihan, ada sekitar 355 petani dan penyuluh telah mengikuti pelatihan tersebut. Menurut peserta, pelatihan ini sangat membantu karena dengan menggunakan teknologi dan aplikasi, petani dapat langsung memasarkan produknya.

 

Hal ini relevan dengan tujuan PENAS XV tahun 2017 di Banda Aceh, yaitu menjadi wadah bagi para petani nelayan seluruh Indonesia untuk melakukan konsolidasi, pengembangan diri, tukar menukar informasi, apresiasi, kemitraan dan promosi hasil pertanian, per­ikanan dan kehutanan yang diselenggarakan secara teratur dan berkelanjutan.nTeuku Ardianzah

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066