• Search
  • Menu
Read Detail

Teknik Budidaya Ubi Kayu Monokultur dan Tumpangsari Double-Row

09:50 WIB | Wednesday, 10-May-2017

Banyak petani menanam ubi kayu. Sayangnya, teknik budidayanya masih sangat konvensional. Namun dengan teknik yang baik, produksi ubi kayu hasilnya akan lebih optimal.

 

Bagaimana caranya? Ada dua teknik budidaya ubi kayu. Pertama, bisa sebagai tanaman tunggal (monokultur) yakni tanaman pagar. Namun bisa dengan bersama dengan tanaman lain (tumpangsari atau tumpang-sisip).

 

Kedua, untuk petani yang mengutamakan hasil ubi kayu, tapi ingin mendapatkan tambahan penghasilan dari kacang-kacangan, padi gogo, atau jagung, dapat menggunakan teknik budidaya secara baris ganda (double row).

 

Dengan pengaturan tanam double-row dimungkinkan dua kali tanaman kacang-kacangan, tanpa mengurangi hasil panenan ubi kayu. Dengan teknik ini, petani lebih cepat mendapat hasil tunai dari panen kacang-kacangan sementara menunggu tanaman ubi kayu dapat dipanen.

 

Penyiapan Bibit dan Varietas

 

Bibit berupa stek diambil dari tanaman yang sehat dan berumur lebih dari 7 bulan. Namun kurang dari 14 bulan. Untuk stek adalah bagian tengah batang yang bagus. Bagian pucuk yang masih terlalu muda (sekitar 50 cm) dan bagian pangkal yang terlalu tua (sekitar 20 cm) sebaiknya tidak digunakan untuk stek.

 

Langkah selanjutnya, batang kemudian dipotong-potong dengan gergaji. Untuk stek normal panjang stek sekitar 15-25 cm. Jika terpaksa menggunakan batang yang terserang hama/penyakit, maka stek perlu disemprot atau direndam dalam pestisida sebelum ditanam.

 

Pemilihan varietas disesuaikan dengan keperluan. Saat ini banyak tersedia pilihan varietas unggul ubi kayu. Untuk konsumsi langsung, pilih yang kualitas rebusnya baik dan rasanya enak (tidak pahit), seperti Malang-1 atau Adira-1. Untuk tepung/tapioka, pilih varietas unggul yang kadar patinya tinggi, walaupun rasanya biasanya pahit (langu).

 

Budidaya Monokultur

 

Untuk budidaya monokultur, langkah pertama adalah pengolahan tanah  sedalam sekitar 25 cm. Karena pada awal pertumbuhan, ubi kayu memerlukan air yang cukup, sebaiknya tanam pada musim hujan. Apalagi lahan tidak berada di aliran irigasi.

 

Stek ditanam dengan cara menancapkan ke tanah sedalam sekitar 3-5 cm. Posisi stek jangan sampai terbalik. Jarak tanam yang umum digunakan adalah 80 x 70 cm atau 100 x 70 cm, tergantung varietas. Dengan jarak tanam ini populasi mencapai 13.000-17.000 tanaman/ha. Jarak tanam yang lebih rapat biasanya menghasilkan umbi yang lebih kecil-kecil walaupun produksi per hektarnya tidak berkurang.

 

Untuk pemupukan, takaran pupuk yang diperlukan adalah 200 kg Urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCI/ha. Pupuk diberikan dua tahap. Pertama,   umur 7-10 hari dipupuk dengan takaran 100 kg Urea,100 kg SP36, dan 50 kg KCI/ha. Kemudian, padaumur 2-3 bulan dipupuk dengan takaran 100 kg Urea dan 50 kg KCI/ha. Jik dianggan perlu pada umur 5 bulan bisa ditambah-kan Urea. Pupuk diberikan secara tugal, sekitar 15 cm dari tanaman.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066