• Search
  • Menu
Read Detail

H Juhiya Petani Petualang yang Tak Pernah Absen Ikut Penas I - XV

10:02 WIB | Tuesday, 09-May-2017

Bicaranya lugas, apa adanya. Niatnya tulus mengikuti Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan Aceh 2017. Dialah H Juhiya (87) yang ikut melahirkan Penas dan hingga Penas XV tidak pernah absen.

 

 “Saya sekarang tidak menginap di hotel. Saya adalah anggota Dewan Pertimbangan Organisasi KTNA. Saya pilih tinggal di rumah penduduk, karena ingin ketemu anak-anak penerus kami,” katanya kepada Sinar Tani di jalan menuju Stadion Harapan Bangsa Aceh.

 

Tabloid Sinar Tani  pun mengajak H Juhiya mampir ke Ruang Media Center yang sejuk untuk mengobrol. Juhiya memberikan nasehat untuk para peserta dan kader KTNA.  “Niatkan untuk ibadah ikut Penas, bukan karena uang, agar berhasil, terampil,” katanya.

 

Juhiya mengatakan sebagai kader KTNA jangan bertentangan dengan program pemerintah, fokuskan saja untuk mengabdi pada peningkatan produksi pangan, siapa pun menterinya, siapupun Presidennya.

 

Jangan juga mau berpolitik praktis, anggota KTNA   bebas mencoblos. Namun, saya meminta para kader supaya berjuang agar sebanyak- banyaknya kader KTNA menjadi anggota DPR dengan beragam bendera partai politik. Walaupun  anggotanya benderanya berbeda-beda, tapi di KTNAnya jangan terkotak-kotak.

 

“Prinsip KTNA itu  jangan tinggalkan membela negara di bidang pertanian, menciptakan negara merdeka dalam kedaulatan pangan, bukan ketahanan pangan. Karena kalau ketahanan pangan itu masih bisa impor,” katanya.

 

Impor pangan atau horti tidaklah haram, tapi bagi patani jangan makan buah impor dan sayuran impor. Di setiap kesempatan termasuk dengan Bupati, saya berani mengatakan jangan makan buah dan sayuran impor, maaf itu barang haram buat saya.

 

Menurutnya dari Penas ke Penas selalu ada peningkatan peserta, kegaitannya juga meningkat. Syukur Alhamdulillah. Saya ikut dari mulai Penas Pertama hingga sekarang. Dari mulai peserta hanya seratus orang hingga sekarang pesertanya 35 ribu orang. Nggak pernah absen.

 

Saya dulu polisi aktif.  Sewaktu dinas di Polisi ikut Kursus Tani Desa, yang diselenggarakan menteri pertanian di kecamatan tahun 1950an. Saya sudah aktif menjadi petani semasa masih jadi polisi aktif.

 

Begitu pension, saya beli ayam 10 ekor, berkembang sampai menjadi  15 ribu ekor, dapat penghargaan peternak teladan nasional dengan produksi telur satu ton pada tahun 1977.

 

Lalu saya alih usaha tanam tomat, sayuran, dapat predikat petani serba bisa. Orang lain sudah kaya dari tanam tomat dan lain-lain. Saya alih usaha lain lagi, yakni berusaha ternak  sapi perah, membentuk KUD sapi perah,  sebagai ketua KUD Sarana Mukti Cisarua di  Bandung Barat. Saya punya 50 ekor sapi perah. Bersama anggota bisa produksi  55 ribu liter per hari pada tahun 2000.

 

Sukses di sapi perah, Juhiya  belajar lagi, baca buku lagi dan alih usaha lagi. Kali ini pilihannya pada usaha jamur. Dari mulai tidak laku, sampai bisa produksi jamur 15 ton per hari, jamur tiram putih, sampai sekarang.

 

Setiap tahun Juhiya mendapat penghargaan dari Bupari, Gubernur, Menteri Pertanian. Dia juga menerima  Satya Lencana Pembangunan dari Presiden  pada tahun 1997, dapat penghargaan dari FAO, berupa mendali swasembada pangan di Roma Tahun 1984, dan mendali 45 tahun FAO ketika sekjennya Edward Sauna tahun 1984.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066