• Search
  • Menu
Read Detail

Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan, Penghormatan Petani-Nelayan untuk Menteri Pertanian

15:53 WIB | Monday, 08-May-2017

Lompatan besar bidang pertanian kini telah diukir Indonesia berkat keberanian dan kegigihan sosok Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperjuangkan peningkatan produksi serta kesejahteraan petani. Tidak salah jika akhirnya Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) memberikan Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan dalam ajang Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan di Aceh.

 

Penerima Lencana Utama (Peniti Emas) antara lain adalah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur Aceh Zainur Abdullah, Bupati Ogan Komering Ulu Timur HM Kholid MD, Bupati Musi Rawas Hendra Gunawan, Bupati Ketapang Martin Rantan.

 

Dalam Rembug KTNA,  juga diberikan Lencana Pratama (Peniti Perak) kepada Bupati Lingga Alias Wello, Sekda Kutai Kertanegara Marli, Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Timur Ibrahim, Kepala Balai Pengkajian Penelitian Pertanian Kutai Kertanegara, Ahmad Hardi Dwiputra.

 

Lencana tersebut dimaksudkan sebagai penghargaan atas pengabdian, kesetiaan dalam mendampingi, memotivasu semangat dan tanggung jawab serta kemandirian petani nelayan dalam meningkatkan pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan. 

 

Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir menuturkan penerimaan peniti emas maupun peniti perak kepada tokoh publik ini bisa menjadi teladan bagi setiap warga negara Indonesia untuk turut bersama meningkatkan pembangunan pertanian secara luas.

 

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengaku sangat tersanjung diberikan penghargaan peniti emas ini terkait usaha dan kerja keras bersama guna peningkatan produksi dan pembangunan pertanian secara menyeluruh. Namun menurutnya, perjuangan pembangunan masih belum selesai karena masih akan terus berlanjut hingga Indonesia bebas sepenuhnya dari impor dan mampu memberikan pangan bagi seluruh warga negaranya.

 

"Kita akan terus menghimbau para Bupati atau Kepala Daerah untuk menjadi petarung untuk memanfaatkan lahan di daerah perbatasan guna ditanami padi-jagung. Selain untuk kebutuhan sendiri juga bisa diekspor ke negara tetangga. Jika kita mampu membanjiri (ekspor) negara tetangga dengan produk kita, Insya Allah kita akan dikenang selamanya," tuturnya. 

 

Jika sebelumnya impor pangan menjadi bagian dalam pemenuhan kebutuhan pangan, maka kini impor pangan seperti beras dan jagunghanya cerita masa lalu yang sudah dilalui Indonesia. Kini, bangsa pejuang ini tengah menatap masa depan dunia pertanian yang lebih indah dengan optimisme tinggi. Negeri yang dikenal dengan slogan Gemah Ripah Loh Jinawi ini tengah kembali kepada bangsa agraris, bernafaskan dunia pertanian.

 

Disadari betul, mengurai permasalahan pertanian bukanlah pekerjaan mudah karena sudah terlalu rumit dan bersinggungan dengan berbagai kepentingan. Sehingga pekerjaan ini harus diselesaikan secara bersama dengan langkah yang sama.

 

Namun menyatukan visi, misi dan nafas untuk bersama-sama mengurai masalah pertanian juga membutuhkan seorang pejuang yang mampu memotivasi. Itulah yang ada dalam diri seorang Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066