• Search
  • Menu
Read Detail

Presiden RI, Joko Widodo: Kita Harus Sayang Petani-Nelayan

14:08 WIB | Monday, 08-May-2017

“Kalau tidak ada petani dan nelayan yang bekerja keras kita makan apa? Makanya kita semua harus sayang kepada para petani dan nelayan.” Demikian sepenggal ungkapan Presiden RI, Joko Widodo saat pembukaan Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan yang berlangsung di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Aceh, Sabtu (6/5).

 

Petani dan Nelayan bagaikan pahlawan tak dikenal. Dengan upaya mereka, bangsa Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangan, baik karbohidrat dan protein. Sayangnya, peran petani-nelayan kadang kurang mendapat ‘pengakuan’. Bahkan profesi tersebut terkesan bukan pilihan utama, terutama bagi kalangan generasi muda.

 

Karena itu ketika orang nomor satu di Indonesia itu meminta semua pihak harus sayang kepada petani-nelayan adalah suatu yang wajar. Ketika pemerintah menyatakan hal tersebut, berarti harus ada kebijakan dalam upaya melindungi petani-nelayan.

 

Salah satu bentuk sayangnya pemerintah kepada petani-nelayan adalah memperbaiki berbagai infrastruktur yang mendukung pertanian. Misalnya, perbaikan saluran irigasi dan waduk yang 52% rusak yang selama ini tidak pernah diperbaiki.  “Kalau itu diselesaikan dan air bisa mengalir ke sawah-sawah akan meningkatkan produk pertanian secara drastis. Demikian juga embung, tampungan air  sangat penting sekali terutama di musim kemarau,” kata Joko.

 

Menurut Jokowi, tahun ini pemerintah manargetkan bisa membangun 30 ribu embung, baik kecil, sedang, maupun yang agak besar. Karena itu, untuk mempercepat pembangunan embung perlu kerjasama tiga kementerian (Kementan, KemenDesPDTT dan KemenPUPR).

 

Selain kesiapan irigasi, perlu juga diperhatikan hal yang berkaitan dengan pasca panen, infrastruktur pemasaran. Bangun logistic platform dan retail platform berbasis Informasi Teknologi agar ada efisiensi dan mata rantai pemasaran bisa diperpendek sehingga akan meningkatkan harga di tingkat petani. “Itulah kondisi-kondisi dan tantangan-tantangan yang kita hadapi,” ujarnya.

 

Kebijakan Bantu Petani

 

Ungkapan sayang pemerintah kepada petani-nelayan adalah menjaga harga pangan tidak jatuh. Presiden RI bercerita, beberapa waktu lalu pernah berkunjung ke  Magetan, Jawa Timur dan Dombu, Nusa Tenggara Barat. Saat itu harga jagung hanya Rp 1.500-1.700/kg, sehingga banyak petani yang rugi

 

“Harga jagung jatuh karena impor pada saat itu cukup besar sekitar 3,6 juta ton.  Kemudian saya terbitkan Inpres terkait dengan ketentuan harga jagung Rp 2.700 (basah)/kg. Barulah masyarakat bergairah kembali tanam jagung,” papar Jokowi. Lantaran petani bergairah kembali,  pada akhir tahun 2016 impor jagung hanya 900 ribu ton (dari sebelumnya 3,6 juta ton). “Ini berkat kerja keras petani. Saya harapkan, tahun ini tak ada impor jagung, karena permintaannya bisa dipenuhi dari dalam negeri,” tambahnya.

 

Dihadapan petani dan nelayan, Jokowi juga bersyukur karena dalam dua tahun ini tidak mengimpor beras. Sampai saat ini tidak ada permintaan impor untuk mengatasi kekurangan stok beras dan untuk mengendalikan harga. Hal itu karena, kabinet kerja telah melakukan percepatan pembangunan pertanian melalui kerja nyata selama dua  tahun terakhir. Bersama lintas kementerian telah menuntaskan lima masalah mendasar yaitu air irigasi lahan sawah, pupuk, benih, alat mesin pertanian (alsintan) serta penyuluhan sehingga produksi pangan straregis meningkat.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066