• Search
  • Menu
Read Detail

Produksi Pangan dan Pemberdayaan Petani Masih Jadi Isu Utama Negara Asia

15:20 WIB | Monday, 20-March-2017

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brojonegoro

Peningkatan produksi pangan, termasuk di dalamnya pemberdayaan petani masih menjadi isu penting yang dibahas di berbagai forum. Tak terkecuali dalam Responsible Business Forum on Food and Agriculture (RBF) di Jakarta, 14-15 Maret 2017 lalu.

 

Karena itu kawasan Asia dengan jumlah penduduk yang mencapai 4 miliar menjadi perhatian khusus dalam produksi pangan dan pemberdayaan petani. Apalagi keamanan pangan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) dari PBB.

 

RBF diselenggarakan Global Initiative bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Partnership for Indonesia’s Sustainable Agriculture (PISAgro), dan Dewan Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Mengusung tema “Mengamankan Masa Depan Pangan dan Nutrisi Asia”, RBF mengeksplorasi cara-cara inovatif dalam meningkatkan produksi pangan berkelanjutan dan melibatkan petani-petani kecil dalam rangka memperbaiki nutrisi dan kesehatan di Asia.

 

Pembicara kunci RBF antara lain Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro,Wakil Ketua KADIN dan Ketua Dewan Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, Shinta Kamdani  dan CEO Golden Agri Resources Franky Widjaja.

 

“Kami secara kolektif harus mengakhiri kelaparan global pada akhir 2030, sebagaimana dirumuskan dalam tujuan SDGs nomor 2 yang juga menekankan bahwa mencapai keamanan pangan harus didukung dengan pertanian berkelanjutan. Implementasi SDGs baiknya tercapai dengan nilai integrasi yang bersifat universal sehingga tidak ada pihak yang tertinggal, “ kata Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya. Data Bank Dunia, 60% tingkat kelaparan global berada di Asia. Sementara Indeks Kelaparan Indonesia atau Global Hunger Index Indonesia tahun 2016 berada pada level 21,9%.

 

Shinta Kamdani yang menyampaikan data tersebut mengatakan, Indonesia yang menjadi lumbung padi Asia, hanya sedikit lebih baik dibandingkan Laos dan Myanmar, sehingga kondisi ini dikategorikan sangat serius. Lebih lanjut Shinta mengemukakan, sebanyak 37% anak Indonesia berusia di bawah lima tahun mengalami kondisi kurang gizi. Yang lebih memprihatinkan, satu di antara sepuluh bayi lahir dengan berat badan rendah di bawah normal.

 

Franky Widjaja mengatakan, petani kecil harus difokuskan dalam upaya ketahanan pangan ini, khususnya di Indonesia yang memiliki 45 juta petani dari 520 juta petani di dunia. Mereka harus menjadi petani yang sejahtera. “Karena kalau tidak, kami tidak akan memperoleh makanan. Petani harus memperoleh akses pasar, teknologi, pengetahuan, serta pembiayaan. Semua yang kita lakukan bukan CSR tapi bagaimana petani kecil ini bisa terangkat, terintegrasi dengan perusahaan,” katanya saat konferensi pers.

 

RBF 2017 ini dihadiri 10 orang petani Indonesia yang sukses berbisnis di berbagai komoditi. Antara lain petani jagung dari Lamongan (Jawa Timur), petani kopi dari Sumatera Utara, petani kakao dari Sulawesi Tenggara, peternak sapi dari Jawa Tengah, petani kelapa sawit dari Sumatera Selatan, petani padi serta pembudidaya ikan.

 

Pihak internasional termasuk dari Golden AgriResources, PT. Nestlé, Cargill, Syngenta, Monsanto, Friesland Campina, Sampoerna, Louis Dreyfus Company, Mars, Musim Mas, dan organisasi internasional lainnya termasuk dari PISAgro, World Business Council for Sustainable Development, Bill & Melinda Gates Foundation, Grow Asia, UN Food and Agriculture Organization, Conservation International, IDH -The Sustainable Trade Initiative, Fairtrade Alliance, CropLife Asia, CSIRO, Food Industry Asia, Fire Free Alliance, WWF. Para inovator bidang industri teknologi yang memiliki solusi - solusi baru untuk ekosistem pertanian termasuk dari Pur Projet, nFrnds, BTPN & GeoTraceability.  Indri