• Search
  • Menu
Read Detail

e-paper tabloid Sinar Tani - Bisnis Hijau, Pakan Hijauan

15:12 WIB | Friday, 07-April-2017

https://www.getscoop.com/id/majalah/sinar-tani/ed-3695-mar-2017

 

Pemerintah telah mengibarkan kembali bendera swasembada daging sapi. Salah satu program untuk mencapai kecukupan daging di dalam negeri tersebut dengan Upaya Khusus Sapi Wajib Bunting (Upsus Siwab).

 

Dalam kegiatan tersebut, pemerintah berkomitmen mewujudkan kebuntingan 3 juta ekor sapi pada tahun 2017. Mimpinya, dengan peningkatan populasi sapi, bukan hanya mam­­pu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, tapi bisa mengekspor.

Untuk mendukung program tersebut salah satunya adalah ketersediaan pakan hijauan. Pasal­nya, ketersediaan pakan menjadi penentu kualitas ternak. Tak jarang, usaha ternak menjadi tekor karena membengkaknya pengeluaran pakan, khususnya untuk membeli konsentrat.

Padahal, pakan tersebut bisa disubtitusi sebagian dengan ta­naman indigofera sebagai kon­sentrat hijau. Guru Besar Bidang Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB, Prof. Luki Abdullah kepada Sinar Tani mengatakan, meski banyak bahan pakan hijauan, tapi hasil riset yang pernah dilakukan mengarah kepada satu jenis yakni Indigofera yakni tanaman legum atau polong-polongan. “Dipilihnya  tanaman  indi­gofera ini karena mengandung protein tinggi yakni rata-rata sebanyak 27%. Kemudian asam aminonya lengkap, beta karoten­nya tinggi, kalsiumnya tinggi, bahkan menjadi rajanya kalsium di antara pakan hijauan lainnya,” ungkapnya.

Tak hanya itu, indigofera men­jadi satu-satunya tanaman legum yang produktivitasnya tinggi ka­rena bisa dipanen tiap 30-40 hari. Spesies indigofera kebanyakan berupa semak. Beberapa lainnya membentuk pohon kecil dengan tinggi mencapai 5-6 meter. Ciri ta­naman indigofera memiliki daun yang menyirip dengan ukuran 3-25 cm, dengan bunga kecil berbentuk raceme dengan ukuran panjang 2-15 cm.

Kelebihan lain dari indigofera adalah tahan kekeringan, sehingga bisa menjadi sumber pakan saat musim kemarau. Tanaman ini bisa bertumbuh mulai dari ketinggian 0-1300 meter di atas permukaan laut (dpl). Namun, produksi paling tinggi berada di ketinggian 100-900 meter dpl. “Selain itu, bisa tumbuh juga di lahan naungan kurang dari 55%. Namun tanaman ini tidak tahan genangan, sehingga harus diperhatikan betul saat menanam,” ujarnya.

Keunggulan lain tanaman ini adalah kandungan tanninnya sangat rendah berkisar antara 0,6-1,4 ppm (jauh di bawah taraf yang dapat menimbulkan sifat anti nutrisi). Rendahnya kandungan tannin ini juga berdampak positif terhadap palatabilitasnya (disukai ternak).

 

Manfaat Indigofera

Guna mempermudah trans­portasi dan penggunaan pakan hijauan dari indigofera, Prof Luki telah membuatnya dalam bentuk konsentrat hijau. Pakan padat nutrisi ini mengandung serat kasar kurang dari 18%. Konsentrat hijau ini digunakan dalam ransum untuk mengoreksi kekurangan nutrien yang tidak didapatkan dari jenis lainnya.

Menurutnya, banyak manfaat dan keuntungan yang bisa di­rasakan peternak dengan mem­berikan pakan konsentrat hijau ini. Di antaranya, kualitas reproduksi yang sangat bagus ditandai dengan fertilitas yang sangat ting­gi, baik untuk meningkatkan produksi dan kualitas daging dan susu, serta menghasilkan produk pangan hewani yang sehat karena rendah kolesterol dan kandungan vitamin lebih tinggi.

 “Khusus untuk sapi potong, indigofera bisa menurunkan kan­dungan lemak di atas permukaan, sehingga prosentase karkas menjadi meningkat. Warna dagingnya pun lebih bagus dan memerah,” tutur guru besar IPB itu.

Penggunaan Indigofera untuk sapi potong, biasanya sekitar 6%-17% dalam ransum. Misalnya, Luki mencontohkan, bobot sapi potong 300 kg memerlukan ran­sum sebanyak 9 kg. Dari ransum tersebut, biasanya dipakai seba­nyak 0,5-1,5 kg indigofera. Jika di­lihat dari nutrisinya, penggunaan Indigofera bisa menaikkan se­banyak 4%-6% protein kasar dalam ransum.

Uniknya, kotoran sapi atau hewan ternak lainnya yang meng­gunakan pakan Indigofera ini mempunyai warna yang lebih hitam dan tidak berbau. Berbeda dengan pakan hijauan lainnya yang memiliki serat kasar yang tinggi sehingga menjadikan ko­toran ternak berbau.

Penggunaan indigofera juga dapat menghemat biaya pakan hingga 41%. Prof Luki menuturkan, penggunaan indigofera dalam feedloater  terbukti menghemat biaya pakan sejumlah 2-6% atau sekitar Rp 2,8 miliar. Hitungan tersebut jika memiliki sapi seba­nyak 5 ribu ekor.

Jika peternak ingin memberi­kan indigofera segar, Luki menya­rankan, sebaiknya daun indigofera dicacah/dipotong-potong terlebih dahulu. Lalu dilayukan selama setengah hari sampai kadar airnya berkurang untuk mempermudah proses pencernaan. “Kita sudah hitung, penggunaan 15% dari konsentrat hijau dalam ransum bisa mensubstitusi 11% bungkil kedelai. Sehingga kita bisa meng­hemat sebanyak 341 ribu ton/tahun,” paparnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi