• Search
  • Menu
Read Detail

Pendapatan Naik, Pupuk Kimia Turun

09:05 WIB | Wednesday, 08-March-2017

Bapak Wayan Arsa tersenyum lebar melihat seledrinya tumbuh baik dan subur.  Semakin gembira dia setelah melihat penjualan sayurannya pada bulan November 2016 sampai Mei 2017 bisa mencapai lebih dari Rp 40.000.000,- pada luasan kurang lebih 0,10 hektar.  Ini terjadi sebagai dampak bioindustri. 

 

Perasaan ini juga dirasakan oleh petani lainnya di Kelompok Tani Suka Makmur Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali. Peningkatan pendapatan ini juga terjadi untuk berbagai jenis tanaman hortikultura lainnya, misalnya untuk cabai pendapatan dua kali panen bisa mencapai Rp. 35.601.626/ 20 are/tahun, cabe rawit satu kali panen mencapai Rp. 22.650.813 / 20 are/tahun dan untuk tomat yang ditanam 2 kali mencapai Rp. 17.725.626/ 10 are/tahun.

 

Kenaikan produksi ini, selain ditopang oleh keteersediaan yang ada sepanjang tahun, didukung juga dengan perbaikan teknologi ke arah teknologi yang ramah lingkungan. Limbah ternak yang dulunya belum dimanfaatkan secara optimal diproses menjadi pupuk organik padat (kompos) sedangkan limbah cair (urin) diolah menjadi bio urin menggunakan fermentor produksi BPTP Balitbangtan Bali.

 

Di dalam program bioindustri ini dikembangkan infrastruktur pendukung pada masing-masing petani koperator berupa  perkandangan permanen dilengkapi dengan sarana pengolahan limbah telah mampu meningkatkan pemanfaatan limbah ternak secara optimal.

 

Pemanfaatan pupuk organik padat dan cair (bio urin) sapi yang telah diolah mampu memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang tidak kalah dengan penggunaan pupuk kimia yang umumnya diterapkan sebelum pengembangan model pertanian bioindustri.

 

Salah satu contoh pemanfaatan pupuk organik cair (bio urin sapi) pada tanaman seledri mampu meningkatkan produktivitas tanaman dari  5,1 t/ha menjadi 6,7 t/ha dengan rentang panen meningkat dari 168 hari menjadi 203 hari.

 

Tidak itu saja, banyak petani yang menyatakan pemanfaatan pupuk organik padat dan bio urin sapi berdampak positif terhadap perbaikan kualitas lahan.  Pengolahan lahan menjadi lebih mudah akibat tanah menjadi gembur.

 

Hasil Farm Record Keeping yang dilakukan pada petani koperator pada tahun kedua menunjukkan dengan mengoptimalkan pemanfaatan pupuk organik padat dan bio urin sapi mampu menekan pengeluaran penggunaan pupuk kimia yang ditandai dengan menurunnya biaya produksi usahatani untuk pembelian pupuk kimia.

 

 Penggunaan pupuk kimia sangat menurun pada usahatani sayuran, dengan penurunan mencapai lebih dari 50%. Pada usahatani  tomat skala dengan usaha 0,10 hektar biaya pembelian pupuk kimia dapat diturunkan dari Rp 270.000,- menjadi Rp 170.000,- dengan tambahan biaya pembelian bio urin sapi sebesar Rp 54.000,- tanpa menurunkan produktivitas tanaman. I Nyoman Adijaya, Peneliti BPTP Bali/Lis

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066