• Search
  • Menu
Read Detail

Kakao Rakyat Rindu Gernas

13:46 WIB | Monday, 06-March-2017

Setelah berjalan hampir enam tahun (2009-2015), pemerintah akhirnya menghentikan Program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao. Namun di daerah sentra bahan baku cokelat tersebut, petani masih mengharapkan pemerintah turun tangan membantu rehabilitasi kebun rakyat.

 

Tanaman kakao di tahun 2009 pernah mendapatkan perhatian serius peme­­rintah. Bahkan tak segan-segan pemerintah meng­gelontorkan anggaran cukup besar dalam program perbaikan produktivitas dan mutu kakao melalui Gernas Kakao.

Setidaknya ada tiga kegiatan dalam program tersebut yakni peremajaan tanaman, rehabilitasi dan intensifikasi. Catatan Ditjen Perkebunan, lahan yang diremajakan dalam program Gernas Kakao seluas 70 ribu ha, rehabilitasi 235 ribu ha, dan intensifikasi 145 ribu ha.

Peremajaan ditujukan untuk tanaman yang rusak parah. Pemerintah memberikan bantuan benih SE (somatic embriogenesis). Untuk tanaman yang kondisinya tak parah atau produktivitasnya rendah direhabilitasi melalui  sambung samping dengan klon unggulan yang telah disertifikasi. Adapun intesifikasi melalui peme­liharaan lebih baik dengan pemangkasan cabang non pro­duktif,  pemupukan dan lain-lain.

Data Ditjen Perkebunan, luas areal tanaman kakao di Indonesia mencapai 1.732.641 hektar (ha). Dari luasan itu perkebunan rakyat  mendominasi yakni 94%. Jumlah petani yang terlibat langsung sebanyak 1.626.816 KK (kepala keluarga). Dari luas areal kakao itu kondisinya 873.785 ha Tanaman Menghasilkan (TM), dan 690.859 ha Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), dan 167.998 ha Tanaman Tidak Menghasilkan/Tua Rusak (TTM/TR).

 

Dampak Positif

Direktur Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, Bambang mengakui, sebenarnya petani kakao masih mengharapkan adanya investasi pemerintah melalui program Gernas. “Coba tanyakan ke petani, pasti tidak ada yang menjawab bahwa Gernas kakao itu tidak membantu petani. Petani sangat senang dan antusias dengan adanya Gernas,” ujarnya.

Pasalnya, Gernas yang dicanangkan tahun 2008, kemudian mulai dilaksanakan tahun 2009-2015 terbukti berdampak positif terhadap perbaikan kebun kakao rakyat. Karena, lahan kakao yang sudah tua diremajakan dengan sambung tempel, intensifikasi, dan rehabilitasi dengan sambung samping. “Intinya Gernas Kakao telah memberikan dampak positif,” tegasnya.

Dampak positif yang terlihat dari Gernas Kakao adanya perbaikan produktivitas tanaman. Areal kebun kakao yang tersentuh program tersebut produksinya kini mencapai 3-4 ton/ha/tahun. Padahal awalnya petani kakao hanya mampu memproduksi antara 400-500 kg/ha/tahun. Bahkan, kualitas biji kakao cukup baik, terlihat dari harga di pasar antara Rp 40 ribu-45 ribu/kg.  

“Sekarang sudah terbukti di lokasi Gernas produktivitasnya bagus, sedangkan yang tak mengikuti Gernas produk­tivitasnya terus menurun. Bahkan ada petani yang mengganti dengan tanaman lain,” katanya kepada Sinar Tani. Sementara areal yang belum tersentuh Gernas di sentra-sentra kakao seperti di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah rata-rata produksinya paling besar 800 kg/ha/tahun.

Ketua Dewan Pakar Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Soetanto Abdoellah juga mengakui, kualitas (mutu) kakao di beberapa tempat meningkat sejak adanya program Gernas Kakao. “Kualitas tersebut terpengaruh dari saat panen, pengolahan (fermentasi) dan pengeringan untuk biji kakao,” ujarnya.

Soetanto mencontohkan bebe­­rapa daerah yang memiliki kualitas kakao terbaik sebagian besar merupakan binaan program Gernas. Mulai dari Kabupaten Jembrana yang memiliki kelompok tani kakao dengan kualitas terbaik dan telah mampu ekspor ke Eropa.

Kemudian ada kelompok tani di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendapatkan award, karena termasuk 10 besar kakao terbaik sedunia. Lalu di Sumatera Barat juga termasuk penghasil kakao 50 besar terbaik sedunia. “Kakao dari Papua Barat juga punya potensi besar dengan menang kualitas kakao se Indonesia yang diselenggarakan Dewan Kakao Indonesia,” tutur Soetanto.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi