• Search
  • Menu
Read Detail

Budidaya Kedelai Non Sawah

14:55 WIB | Monday, 06-February-2017

Kedelai menjadi satu dari tiga komoditi tanaman pangan setelah padi dan jagung yang mendapat perhatian khusus pemerintah. Produksi bahan baku tempe tahu ini terus berfluktuasi dari tahun ke tahun.

 

Catatan Ditjen Tanaman Pangan, rata-rata produksi kedelai pada periode 2011-2013 sebesar 824.810 ton meningkat menjadi 934.580 ton pada periode 2014-2016 atau naik 109.770 ton (13,31%). Peningkatan produksi kedelai tak lepas dari dukungan program pemerintah.

Namun harus diakui, produksi kedelai dalam negeri memang belum mampu memenuhi kebu­tuhan industri, terutama tahu-tempe. Upaya menggenjot pro­duksi kedelai pun tak mudah, karena harus bersaing dengan padi dan jagung dalam penggunaan lahan sawah. Dengan insentif lebih menarik, petani lebih memilih menanam dua komoditi tersebut ketimbang kedelai.

Satu cara agar produksi kedelai tetap melaju, pemerintah mulai melirik pengembangan kedelai di lahan non sawah. Potensi perluasan pengembangan lahan kedelai sebenarnya cukup besar. Data Kementerian Pertanian ketersediaan lahan yang sesuai untuk budidaya tanaman bahan baku tahu tempe ini mencapai 3.432.864 hektar (ha).

Lahan tersebut tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. Di beberapa wilayah Jawa, sudah dikembangkan budidaya kedelai di kawasan hutan. Misalnya, di Jawa Timur, petani menanam kedelai di lahan hutan jati dengan sistem tumpang sari.

Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, petani di Desa Sanca bercocok tanam kedelai di kawasan hutan milik Perum Perhutani. Petani yang tergabung dalam Gapoktan Sanca Jaya sudah sejak tahun 2008 menanam kedelai di antara pohon kayu putih milik Perhutani.

Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Rita Mezu mengatakan, pihaknya kini fokus membidik lahan di sela tanaman hutan produktif yang dikelola Perum Perhutani. Langkah ini bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kendala sulitnya mendapatkan lahan untuk kegiatan perluasan areal tanam (PAT) kedelai.

Potensi lahan Perhutani yang sesuai untuk pengembangan ta­nam­­an pangan, khususnya di Pulau Jawa terdata mencapai 150 ribu ha. “Ini jelas merupakan satu peluang besar untuk pengem­bangan kedelai ke depan,” ujar Rita Mezu.

Dengan potensi yang besar itu, Rita menegaskan, target kegiatan PAT seluas 200 ribu ha pada tahun 2017 ini agar sebagian berada di areal kawasan hutan Perum Perhutani. Bahkan kegiatan penanaman kedelai sudah mulai sejak Oktober 2016 di sela tanaman jati dan kayu putih bekerjasama dengan petani hutan di Jawa Timur yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Menurut Kepala Perum Per­hutani Divisi Regional Jawa Timur, Andi Purwandi, dari 23 KPH di wilayah Jawa Timur, sekitar 12 KPH telah mengembagkan ta­naman kedelai. “Kami tentunya me­nyambut gembira upaya pe­ngem­­bangan tanaman kedelai di lahan Perhutani karena jelas-jelas mampu menambah pendapatan masyarakat di sekitar hutan pro­duktif kami,” ujarnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi