• Search
  • Menu
Read Detail

Menarik Generasi Muda Mencintai Pertanian

10:48 WIB | Monday, 06-February-2017

Ada yang berbeda nampak di areal Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang saat Sinar Tani berkunjung pada Kamis (26/1) lalu. Sejumlah anak muda tengah asik mengolah lahan pertanian. Ada yang tengah menanam bibit cabai. Ada juga yang masih membersihkan lahan.

 

Di lokasi lain, beberapa anak muda juga tengah sibuk mengamati tanaman cabai yang telah berbuah. Kesibukan juga terlihat di lokasi inkubator usaha tani, beberapa anak muda yang kini masih duduk di bangku setingkat SMU sibuk mempersiapkan bahan baku untuk membuat pupuk organik.

 

Sementara di sekitar rumah dinas lembaga pelatihan yang berada di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, lima anak muda sedang mengajarkan ibu-ibu rumah tangga membuat media tanam dalam polybag.

 

Mereka adalah siswa-siswi dari SMKN Kasomalang, SMKN 1 Rongga dan SMKN Ranca Bali yang tengah praktek kerja di BBPP Lembang. Bagi mereka pertanian ke depan menjadi dunia usaha yang menjanjikan.

 

“Saya termotivasi untuk masuk pertanian, karena dunia kerjanya luas dan banyak dibutuhkan. Jadi lebih terjamin untuk masa depan,” kata Feriyan, siswa SMK Kasomalang di sela-sela melatih Dharmawanita BBPP Lembang. Hal senada juga diakui, Nilatifah Narwah dari SMKN 1 Rongga dan Rian Hidayat dari SMK Ranca Bali.

 

Generasi Penerus

 

Feriyan, Latifah, Rian dan anak muda lainnya yang mengambil bidang studi pertanian/agribisnis di sekolahnya diharapkan menjadi generasi penerus pertanian di Indonesia. Saat ini memang harus diakui, regenerasi petani menjadi persoalan serius. Banyak kalangan muda enggan terjun ke dunia pertanian. Satu alasannya, pertanian bukan pekerjaan yang menarik dan terkesan kumuh dan bau lumpur.

 

Seperti diakui Feriyan. Di SMK Kasomalang untuk jurusan agribisnis hanya ada 19 siswa atau satu kelas. Berbeda dengan jurusan lain yakni Rekayasa Perangkat Lunak dan Teknologi Sepeda Motor yang jumlahnya lebih dari 50 siswa, hingga 2-3 kelas.

 

Jika melihat angka Sensus Pertanian 2013, dari sekitar 26,13 juta tenaga kerja di pertanian yang berusia 15-24 tahun hanya sekitar 229.877 jiwa. Begitu juga yang berusia 25-34 tahun sebanyak 3,12 juta jiwa. Terbanyak berusia 45-54 tahun yakni 7,32 juta jiwa, selanjutnya berusia 35-44 tahun sebanyak 6,88 juta jiwa.

 

Karena itu pemerintah mencari berbagai cara agar dunia kerja pertanian mempunyai generasi penerus. Misalnya, sekolah gratis untuk anak petani dan menjadikan pertanian lebih modern dengan mekanisasi pertanian.

 

Kepala BBPP Lembang, Bandel Hartopo pun mengakui terjadi penurunan minat generasi muda terjun ke dunia pertanian. Misalnya, saat dirinya memberikan ceramah di salah satu SMK di Tengerang jurusan Agribisnis.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi