• Search
  • Menu
Read Detail

Mengenal Lebih Jauh Pupuk Organik

14:37 WIB | Monday, 23-January-2017

Back to nature kini menjadi tren dalam pola konsumsi masyarakat, sehingga menuntut petani bisa menghasilkan produk-produk pertanian organik yang benar-benar aman untuk dikonsumsi dan bebas dari residu bahan kimia yang dapat mengganggu dan membahayakan kesehatan.

 

Di satu sisi para petani dituntut untuk menghasilkan produk-produk pertanian organik,  tapi di sisi lain petani juga harus berupaya meningkatkan produktivitas hasil pertanian mereka. Untuk bisa menghasilkan produk pertanian organik sekaligus meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

 

Tentunya pola budidaya tanaman harus mengacu kepada konsep pertanian organik. Artinya, petani hanya menggunakan material organik atau non kimia dalam menjalankan usaha tani. Salah satu konsep pertanian organik yang kemudian direkomendasikan adalah penggunaan pupuk organik dan meminimalisir penggunaan pupuk kimia dalam kegiatan usaha tani atau budidaya tanaman.

 

Penggunaan pupuk organik sebenarnya bukan hal baru, karena sudah menjadi bagian dari sejarah pertanian Indonesia. Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal petani sebelum diterapkannya revolusi hijau di Indonesia.

 

Setelah revolusi hijau, justru kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan. Alasannya karena lebih praktis, hemat, harganya pun relatif murah dan mudah diperoleh. Kebanyakan petani kini sudah sangat tergantung pupuk buatan (kimia), sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian dan menurunkan kesuburan tanah. 

 

Kenyataan seperti itulah yang kemudian memicu tumbuhnya kesadaran petani terhadap dampak negatif pupuk buatan, sehingga mulai beralih pada pupuk organik. Ada beberapa jenis pupuk organik

 

Inilah Jenisnya

 

Pupuk Kandang

 

Pupuk kandang adalah pupuk organik alami yang berasal dari kotoran hewan atau ternak peliharaan  seperti kotoran kambing, sapi, kerbau, domba, dan ayam. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing (urine) hewan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066