• Search
  • Menu
Read Detail

Antisipasi Hari Besar Keagamaan, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Aman

12:17 WIB | Monday, 25-April-2016

Ibarat tamu yang datang tiap tahun, harga produk pangan menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Idul Fitri biasanya bergejolak. Untuk mengantisipasi meroketnya harga kebutuhan pangan jelang hari besar keagamaan, Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian akan memantau pergerakan harga.

 

Kebijakan ketahanan pangan menginginkan agar masyarakat dapat memperoleh bahan pangan yang cukup dengan harga yang terjangkau dan diupayakan bersumber dari hasil produksi dalam negeri. Pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) permintaan bahan pangan pokok masyarakat cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaannya.

 

Kepala Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian, Gardjita Budi  mengatakan, pihaknya selalu memantau pasokan dan harga dari bahan pangan komoditas pokok. Bukan hanya menjelang hari besar keagamaan, tapi juga tiap saat. “Jadi ada enggak ada lebaran selalu kita pantau. Bahkan prediksi pasokan berdasarkan berapa posisi stok, produksi dan kebutuhan sudah bisa dilakukan,” katanya kepada Sinar Tani di kantornya.

 

Menurut dia, salah satu komoditas yang paling dicari menjelang hari besar dan keagamaan nasional adalah beras. Kebutuhan beras tiap tahun sekitar 32-33 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri mencapai 46 juta ton beras. Ini artinya sudah lebih dari cukup, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir.

 

Selain beras, beberapa komoditas lain pun menjadi perhatian seperti aneka cabai dan bawang merah. Secara produksi, Ditjen Hortikultura sudah mengawal pertanaman cabai dan bawang dari sekarang. Diperkirakan akan panen saat menjelang Ramadhan.

 

Begitu pula dengan komoditas ayam dan telur, Gardjita memprediksi produksi akan mencukupi untuk memenuhi permintaan. Data dari BKP, ketersediaan ayam ras dan telur hingga Juni-Juli 2016 masing-masing sebanyak 493.985 ton dan 503.750 ton. Adapun kebutuhannya hanya sekitar 217.144 ton dan 253.634 ton, sehingga dipastikan masih ada surplus.

 

Untuk stok daging sapi, Gardjita mengakui, memang ada kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi daging pada hari raya, sehingga akan terjadi peningkatan permintaan. Dengan demikian, masih perlu tambahan pasokan daging untuk bisa memenuhi kebutuhan dengan impor. “Impor dilakukan terbatas dan terukur. Proses impor pun tidak lagi bisa dilakukan oleh pihak swasta tetapi dilakukan Bulog,” ujarnya.

 

Impor dibutuhkan untuk menutup kebutuhan daging sapi nasional sebanyak 674.690 ton tahun ini, atau meningkat dari 653.980 ton tahun lalu. Sementara produksi dalam negeri hanya 439.530 ton, atau bertambah dari 416.090 ton tahun lalu. “Impor sapi bisa dimungkinkan dan Bulog bekerjasama dengan PT Berdikari untuk pemotongannya hingga menjadi daging sapi yang dibutuhkan masyarakat,” ungkap Gardjita.

 

Harga dan Distribusi

 

Gardjita juga mengakui, hukum supply and demand  akan sangat berlaku selama HBKN. Jadi meski pasokan pangan dipastikan aman, namun distribusi yang masih panjang dan sentra produksi yang tersebar bisa berpengaruh terhadap harga yang diterima masyarakat.

 

“Jika distribusi ini tidak diatur, termasuk transportasinya, maka harga akan tinggi dan akses masyarakat akan susah. Kuncinya adalah bagaimana membawa dari sentra produksi kepada sentra konsumen,” tegasnya.

 

Seperti diketahui, pola transportasi bahan pangan akan sedikti terganggu setelah lebaran. Pasalnya transportasi pengangkut bahan pangan hanya bisa beroperasi hingga H-1. Sedangkan untuk beras cenderung aman hingga H+8 lebaran, karena biasanya sejak H-1 distributor sudah menyimpan pasokan hingga delapan hari setelah lebaran.

 

Untuk itu, BKP selalu berkoordinasi dengan kementerian lainnya seperti Kementerian Perhubungan untuk mengecek kesiapan calon distribusi. “Selama HBKN pasti transportasi manusia diutamakan, tapi komoditas pangan tetap harus diprioritaskan dibandingkan dengan komoditas lainnya,” harap Gardjita.

 

Pengalaman sebelumnya, fluktuasi harga bahan pokok meningkat 5%-10% masih tergolong aman. Jadi jika ada kenaikan harga menjelang lebaran dan masih di bawah 10% masih aman. “Yang tidak kita inginkan adalah harga langsung melonjak tinggi hingga 20-30% kemudian setelah lebaran turun drastis,” katanya.

 

Untuk menstabilkan harga, selama ini BKP dan Ditjen Hortikultura sudah pernah melakukan pasar murah terkait bahan pangan. Bahkan bazar murah yang dilakukan di 12 titik mulai dirasakan manfaatnya, meski harus diakui kapasitasnya kecil hanya 1,5 ton cabai-bawang dan 1 ton beras.

 

Namun ke depan, menurut Gardjit, pemerintah akan membuat bazar murah yang permanen dalam bentuk Toko Tani Indonesia (TTI).  Tahun ini direncanakan akan dibangun 1.000 TTI. Di Ibukota Jakarta akan dipersiapkan sekitar 40-60 TTI dari jatah sekitar 120 TTI yang tersebar di sekitar Jabodetabek.

 

“Idealnya memang akan dipasarkan sekitar 11 komoditas seperti beras, kedelai, bawang, aneka cabai, daging ayam, daging sapi. Tetapi prioritas sekarang adalah beras. Sedangkan bawang, cabai dan daging harus memiliki freezer di TTI. Bukan tidak mungkin tetapi masih bertahap,” tutur Gardjita. Gsh/Yul/Humas BKP

 

 

Prognosa Ketersediaan dan Kebutuhan Pangan Strategis Periode HKBN Puasa dan Idul Fitri 2016

 

 

No

 

 

Komoditas

 

 

Ketersediaan Juni-Juli 2016 (ton)

 

 

Kebutuhan Juni-Juli (Ton)

 

 

1

 

 

Beras

 

 

7.709.927

 

 

5.626.356

 

 

2

 

 

Jagung

 

 

3.897.044

 

 

3.106.773

 

 

3

 

 

Kedelai

 

 

244.30

 

 

443.33

 

 

4

 

 

Kacang Tanah

 

 

155.21

 

 

136.66

 

 

5

 

 

Gula Pasir

 

 

877.78

 

 

544.50

 

 

6

 

 

Minyak Goreng

 

 

4.205.767

 

 

822.18

 

 

7

 

 

Bawang Merah

 

 

283.94

 

 

189.000

 

 

8

 

 

Cabai Besar

 

 

212.98

 

 

160.10

 

 

9

 

 

Cabai Rawit

 

 

170.71

 

 

114.22

 

 

10

 

 

Daging Sapi

 

 

76.93

 

 

115.33

 

 

11

 

 

Daging Ayam Ras

 

 

493.99

 

 

217.14

 

 

12

 

 

Telur Ayam Ras

 

 

503.750

 

 

253.65

 

 

TTI, Jembatan Produsen dengan Konsumen

 

Salah satu upaya pemerintah memotong mata rantai pemasaran adalah dengan mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI). Dengan adanya TTI, masyarakat bisa lebih dekat mendapatkan kebutuhan pangan dengan harga yang relatif lebih murah, karena langsung dari produsen.

 

Salah satu yang kini sudah berjalan adalah TTI yang berlokasi di daerah Pondok Labu milik Syarif Hidayatullah. Menurutnya, TTI miliknya tersebut mendapatkan pasokan bahan pangan dari Gapoktan di Provinsi Banten.

 

"Di Kelurahan Pondok Labu sendiri ada empat titik yang ada toko tani. Masing-masing titik tersebut dipasok sekitar satu ton," ujarnya saat Sinar Tani berkunjung. Syarif mengaku, pasokan beras dari Gapoktan baru berlangsung sebulan ini dan berjalan dengan lancar. "Biasanya jika di toko tinggal tersisa dua karung atau sekitar satu kuintal kita langsung kontak ke Gapoktan dan langsung dikirimkan," tambahnya.

 

Meski dalam panduan umumnya TTI ini akan menjual pangan pokok seperti beras, cabai dan bawang merah hingga daging sapi, namun saat ini TTI milik Syarif ini masih khusus menjual beras. “Dengan adanya TTI yang langsung di pemukiman, masyarakat bisa merasakan operasi pasar yang kerap dilakukan pemerintah untuk menekan tingginya harga pangan,” harap Syarif.

 

Kunjungan Mentan

 

Program TTI yang diinisiasi Badan Ketahanan Pangan (BKP) itu membuat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman berniat untuk menengok langsung kegiatannya. Pada Jumat (22/4), Amran datang ke TTI yang ada di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan milik Syarif Hidayatullah.

 

Amran mengapresiasi keberadaan TTI yang berada di pemukiman penduduk karena secara langsung mendekatkan pangan kepada masyarakat. Tentu saja dengan harga yang lebih terjangkau. "Kita akan merubah struktur pasar menjadi baru. Sehingga harga bisa turun," ujarnya.

 

Amran menilai, selama ini rantai pasokan produk pangan dari produsen ke konsumen cukup panjang. Kini dengan adanya TTI, pangan, khususnya beras petani bisa cepat dan langsung didapatkan konsumen.  "Kita potong rantai pasokan. Sekarang dari petani ke Gapoktan kemudian dipasok ke Toko Tani Indonesia," katanya.

 

Keuntungan lainnya dari TTI menurut Amran, konsumen akan senang lantaran harga yang diperoleh lebih murah dari pasar. Jika sebelumnya konsumen membeli beras dengan harga Rp 9.500/liter atau sekitar Rp 13 ribu/kg, maka dengan adanya TTI harganya menjadi hanya Rp 7.500/liter.

 

Amran berharap, keberadaan TTI juga bisa memberikan efek psikologis dari tingginya harga di pasar. Sebab, nanti pembelian di pasar menjadi berkurang, karena konsumen sudah bisa mendapatkan produk pangan di TTI yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman. “Jadi mau tidak mau harga akan dipaksa turun,” katanya.

 

Rencananya, Kementan akan membangun sekitar 1.000 unit TTI di seluruh Indonesia.

 

Hingga April ini sudah terbentuk 200-300 TTI yang ada di seluruh tanah air. “Kami sangat optimis 1.000 TTI akan bisa terbentuk tahun ini," katanya. Gsh/Humas BKP

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto