• Search
  • Menu
Read Detail

Benih Padi Hibrida Mulai Dicari Petani

13:19 WIB | Friday, 22-April-2016

 

 

 

 

  Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir saat acara FGD Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) "Tantangan dan Peluang Peran Benih Padi Hibrida dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan" di Depok (21/4) mengatakan bahwa benih padi hibrida mulai dicari oleh beberapa petani karena produksi tinggi, rendemen tinggi, ketika dimasak berasa nasi, dan tahan terhadap hama-penyakit.

 

"Walaupun harganya lebih mahal dari inbrida, beberapa petani sudah banyak yang mencari," katanya.

 

Dulu menurut Winarno, petani masih enggan menggunakan benih padi hibrida. Harga benihnya yang mahal, ditambah kurang disukai oleh konsumen karena rasanya tidak enak. Selain itu, mudah terserang hama-penyakit, terutama hama wereng batang cokelat. Tetapi lambat-laun, penelitian mengenai padi hibrida semakin sempurna, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi.

 

Kelebihan lain dari benih padi hibrida adalah dapat dibudidayakan di lahan kering. Jadi bisa dikembangkan di lahan non teknis. "Kalau padi inbrida kebanyakan dapat tumbuh baik di lahan irigasi teknis, tapi untuk hibrida lain. Dia dapat tumbuh dengan baik di lahan irigasi teknis dan lahan kering," jelas Winarno.

 

Dari catatan Asbenindo, beberapa daerah padi hibrida memberikan peluang peningkatan hasil yang cukup signifikan tanpa meningkatan areal lahan. Di Sumatera Utara, menggunakan hibrida dengan teknologi yang tepat, mampu memberikan kenaikan hasil sebesar 63 persen dibandingkan padi inbirda.

 

            Benih padi hibrida akan memberikan peningkatan hasil yang signifikan jika ditanam di wilayah dengan karakteristik tertentu, karena sifat unggul yang ada dalam padi hibrida tidak dirancang khusus untuk meningkatkan hasil panen, tetapi untuk meminimalisir hilangnya potensi hasil panen karena masalah biotik dan abiotic yang dihadapi petani. Jika digunakan dengan tepat sasaran (tepat wilayah dan tepat jenis), teknologi pembenihan padi hibrida dapat meningkatkan produksi sebesar 30 – 50 %.

 

     Berdasarkan keterangan dari Wakil Ketua Asbenindo, Herry Kristanto, walaupun petani mulai menyukai benih padi hibrida, tetap saja produksinya masih minim dibandingkan benih inbrida. Mengapa demikian? Karena memproduksinya lebih sulit dibandingkan yang inbrida. "Cara untuk mencapai kedaulatan pangan, terutama padi, tidak hanya bisa dipenuhi oleh inbrida, melainkan padi hibrida turut serta," katanya. Cla