• Search
  • Menu
Read Detail

Edi Wahyuni, Menyulap Limbah Buah Jadi Pupuk Organik

10:18 WIB | Monday, 18-April-2016

Kreatifitas bisa lahir dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Begitu juga dengan kreatifitas yang dilakukan seorang penyuluh pertanian di Kabupaten Aceh Tengah bernama Edi Wahyuni.

 

Penyuluh yang sudah menekuni profesi sebagai penyuluh pertanian kontrak sejak delapan tahun yang lalu itu tergolong kreatif memanfaatkan potensi yang ada di daerahnya.

 

Berawal dari keprihatinan melihat banyaknya sisa buah-buahan, bahkan  menumpuk di Pasar Paya Ilang, salah satu pasar sayur dan buah terbesar di kota dingin Takengon, muncul ide memanfaatkan buah-buahan kadaluarsa tersebut agar bisa bermanfaat.

 

Awalnya Edi sempat bingung mau diapakan buah-buah busuk itu. Isterinya yang seorang PNS pada Dispenda Aceh Tengah sempat protes karena suaminya membawa sampah ke rumahnya. “Setelah berfikir keras. Akhirnya saya mendapatkan ide memanfaatkan limbah buah itu menjadi pupuk cair,” kata Edi.

 

Edi mengatakan, dirinya lalu mencari referensi tentang kandungan zat yang terdapat dalam buah-buahan tersebut. Akhirnya dia mendapatkan referensi bahwa sari dari buah-buahan tersebut mengandung enzim yang berfungsi sebagai zat perangsang tumbuh pada tanaman.

 

Tanpa ragu, penyuluh pertanian itupun mulai memproses limbah buah-buahan itu menjadi pupuk organik yang berbentuk cair. Apalagi memang buah-buahan tersebut mengandung banyak air, jadi tidak sulit membuat menjadi pupuk cair.

 

Proses Pembuatan

 

Dengan peralatan seadanya, Edi mulai menghancurkan buah-buahan itu menjadi bubur buah, kemudian disaring dan diambil sarinya. Untuk mengubah cairan menjadi pupuk perlu proses fermentasi selama 12-15 hari. “Sebagai stimulator dan activator agar enzim yang diharapkan cepat terbentuk, saya menambahkan gula merah pada larutan buah,” katanya.

 

Untuk mempercepat proses fermentasi Edi menambahkan air kelapa. Dari referensi penambahan air kelapa pada cairan buah-buahan mempercepat terbentuknya  hormon sitokinin, auksin dan giberalin yang berfungsi merangsang pertumbuhan akar, batang, daun dan buah pada tanaman. “Sementara untuk menghambat tumbuhnya bakteri yang merugikan, saya menambahkan air cucian beras,” katanya.

 

Edi menjelaskan, proses pembuatannya pun cukup sederhana dan tidak membutuhkan alat khusus serta tempat yang luas. Untuk membuat pupuk organik cair sebanyak 40 liter, hanya memerlukan 15-20 kg buah-buahan busuk, 10 liter air kelapa, 5 liter air cucian beras, 1 kg gula merah/gula tebu dan air bersih 20 liter.

 

Tahap awalnya, buah dihancurkan secara manual kemudian disaring. Lalu ditambahkan air kelapa, air cucian beras dan gula merah.  Kemudian ditempatkan dalam ember plastik besar lalu diaduk-aduk sampai merata, kemudian wadah tersebut ditutup rapat dengan plastik tebal. Setiap hari, larutan tersebut di aduk 4–5 kali agar tidak terjadi endapan, lalu ditutup rapat kembali.

 

Setelah proses fermentasi berlangsung selama 12-15 hari, dan sudah berubah aroma dari aroma busuk menjadi aroma ragi serta adanya buih-buih berwarna putih di atasnya, menandakan bahwa pupuk organik cair tersebut sudah jadi dan siap untuk digunakan. “Langkah selanjutnya masukkan pupuk cair tersebut ke dalam botol-botol plastik bekas air mineral,” katanya.

 

Uji Coba di Lahan Sendiri

 

Meski pupuk yang diciptakan sudah jadi, namun Edi tidak langsung mempublikasikan hasil kreatifitasnya kepada petani. Tapi, dia terlebih dahulu melakukan uji coba pada tanaman cabai dan tomat miliknya. “Hasilnya luar biasa, setelah diberi stimulan pupuk cair ternyata pertumbuhannya lebih cepat 1,5 kali lipat dan tanaman terlihat subur dan gemuk,” kata Edi.

 

Edi mulai yakin dengan hasil karyanya. Dia mulai mengaplikasikan pupuk cair tersebut pada tanaman miliknya yang ada di pekarangan rumah maupun di lahan kebunnya. “Karena masih dalam taraf uji coba, saya baru berani menerapkan dosis rendah pada tanaman yaitu untuk aplikasi akar dengan dosis 30 cc dicampur dengan 1 liter air dan untuk aplikasi daun, bunga dan buah dia memakai dosis 10 cc per 1 liter air,” tuturnya.

 

Setelah tahap uji coba satu kali musim tanam dan hasil yang didapatkan meningkat sampai tiga kali lipat, Edi mulai berani menyebarluaskan karyanya kepada petani di wilayah binaannya. Tahap awal dia belum mematok harga untuk pupuk cair yang dikemas dan diberi label POC (Pupuk Organik Cair) tersebut.

 

“Saya hanya mengambil biaya produksi sebesar Rp 15 ribu/liter pupuk,” ujarnya. Harga tersebut tentu jauh lebih murah dibanding pupuk sejenis buatan pabrik yang di pasaran mencapai Rp 60 ribu-80 ribu/liter.

 

Ada satu obsesi Edi yang belum bisa terlaksana yaitu melakukan uji laboratorium terhadap pupuk cair yang diciptakan itu. Meski demikian, dari hasil pengujian sederhana terhadap tanaman miliknya, Edi yakin pupuk hasil kreatifitasnya mampu meningkatkan produktivitas tanaman serta menghemat biaya produksi. Fathan/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto