• Search
  • Menu
Read Detail

Hadapi MEA, Kementan Berikan Bimtek Ketua KTNA Seluruh Propinsi

17:32 WIB | Thursday, 14-April-2016

 

 

Menghadapi pasar tunggal Asean (MEA) yang sudah berjalan sejak Januari 2016, Kementerian Pertanian semakin gencar melakukan penguatan kelembagaan petani. Semua Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) dan Gabungan Kelompok Tani dikumpulkan dan diberikan bimbingan teknis untuk memperkuat kelembagaan petani.

 

 

 

“Penguatan kelembagaan tani kita lakukan bimbingan teknis dan dengan cara pemberdayaan petani melalui kegiatan penyuluhan pertanian dengan pendekatan kelompok,” kata Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian, Fathan A. Rasyid saat membuka acara Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Kepemimpionan Kelembagaan Tani di Bandung yang diikuti oleh 102 peserta yang terdiri dari pengurus KTNA setiap provinsi dan gapokta

 

. Pendekatan ini dilakukan untuk dapat membangun sinergisitas antar petani itu sender. “Petani tidak bisa berdiri sendri, melainkan harus berkelompok. Makanya para petani harus membentuk kelompok petani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan),” ujarnya (13/4)

 

            Fathan mengatakan bahwa kelembagaan petani merupakan hal yang paling penting dalam menghadapi MEA karena produk-produk pertanian asal Indonesia selama ini dikuasai oleh asing akibat lemahnya kelembagaan petani. Sehingga harga komoditi asal Indonesia ditentukan bukan oleh produsen (petani), melainkan pihak luar. “Di MEA ini petani harus menjadi pemain dan penentu harga. Jangan negara lain yang menentukan karena sepenuhnya, Indonesia adalah negara pertanian. Makanya kelembagaan petani harus ditumbuh-kembangkan,” katanya.

 

            Selain itu dampak positifnya membentuk kelembagaan petani adalah masalah penyaluran bantuan dan sosialisasi kebijakan lebih terarah. Karena berdasarkan peraturan yang ada, pemerintah harus memberikan bantuan kepada petani yang sudah berkelompok. Selain itu, sosialisasi kebijakan akan lebih mudah didapat apabila petani tersebut berkelompok karena melihat dari jumlah penyuluh pertanian yang sedikit.

 

            Jumlah kelembagaan petani saat ini sebanyak 585.235 kelompok. Terdiri poktan 510.071, gapoktan 61.114 kelompok, dan klembagaan perekonomian petani sebnyak 14.068 kelompok, inok. Jumlah ini masih sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah Rumah Tangga (RT) Petani.

 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Fathan bahwa jumlah Rumah Tangga Petani yang terdata oleh sensus pertanian ada sebanyak 31,7 juta jiwa dan masih ada 23,6 juta jiwa belum berkelompok. “Kalau melihat jumlah RT petani yang 31 juta jiwa, seharusnya jumlah kelembagaan petani 1 juta kelompok. Makanya harus ditumbuh kembangkan,” jelasnya. Cla

 

Editor : Ahmad Soim