• Search
  • Menu
Read Detail

BPPSDMP Latih Utusan Palestina Belajar Hidroponik

17:28 WIB | Tuesday, 15-March-2016

Banyaknya inovasi teknologi pertanian yang telah dihasilkan Indonesia memberikan daya tarik bagi negara-negara lain di dunia. Salah satunya Palestina yang telah tiga kali mengirim utusan menyerap ilmu di Indonesia. Tahun ini mereka belajar hidroponik.

 

Pertama tahun 2012 dengan nama pelatihannya Fruit Production for Palestinian Officers dengan jumlah peserta 12 orang. Lalu tahun 2013 pelatihan Innovation Production on Vegetables Technique for Palestinian Officers dengan peserta sebanyak 20 orang. Lalu tahun 2016 dengan Innovative Production with Hydroponic Technique and Manajement of Packing House for Palestinian Officers sebanyak 20 orang.

 

“Ini sudah ketiga kalinya Palestina belajar ke Indonesia dalam bidang pertanian. Dan sekarang mereka tertarik untuk belajar mengenai budidaya hidroponik dan cara pengemasan untuk market yang lebih baik,” kata Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Surachman Suwardi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Project Formulation Advisor (kantor Indonesia) dari JICA, Kikuchi Tadashi mengatakan, Palestina merupakan salah satu negara yang didanai JICA untuk mengembangkan pertaniannya, yakni dengan mengikuti pelatihan teknik pertanian di Indonesia. “Kita ingin pertanian di Palestina berkembang. Tidak hanya budidaya, tapi juga akses pasarannya juga,” katanya.

 

Karena itu kata Kikuchi Tadashi, pelatihan kali ini (2016) untuk belajar budidaya hidroponik dan memanajemen pengemasan agar dapat diterima pasar, terutama ekspor. Pelatihan yang dilaksanakan dari 21 Februari-5 Maret 2016 di Jawa Barat (Lembang dan Cipanas).

 

Jalin Kerjasama

 

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) sejak tahun 1980 sudah menjalin kerjasama dengan negara-negara selatan dalam hal teknik budidaya pertanian. “Kurang lebih kita sudah menjalin kerjasama teknik di bidang pertanian (pendidikan dan pelatihan) selama 36 tahun. Dengan jumlah total peserta keseluruhannya 2.618 orang,” kata Surachman.

 

Negara-negara yang mengikuti pelatihan berasal dari Afrika, Asia, ASEAN, Pasifik dan Amerika Latin. Dengan peserta petugas pertanian di negara-negara peserta. Khusus peserta dari Asia dan Pasifik (termasuk Indonesia) mendapat bantuan dana dari Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

 

BPPSDMP mencatat, ada 10 program diklat yang diminati negara-negara peserta. Rice Production Technique, Agriculture Extension and Training Methodology, Pest Surveilance and Forecasting, Fresh Water Fish Culture, Cropping System, Poultry Husbandry, Agricultural Rural Development, Rice Post Harvest Processing Technology, Agrobusiness Technology, dan Participatory Training Program on Agricultural Extension Methodology. “Ini berdasarkan evaluasi kita selama menyelenggarakan diklat dan permintaan yang ditujukan ke pemerintah Indonesia,” katanya.

 

Bukan hanya permintaan diklat di Indonesia, beberapa negara juga meminta tenaga ahli pertanian untuk memberikan diklat di negara lain. Hingga kini sudah 33 tenaga ahli pertanian asal Indonesia dikirim berulang kali sebanyak 60 kali memberikan diklat ke negara lain. “Madagaskar, Timor Leste, Tanzania, dan Fiji adalah negara-negara yang meminta tenaga ahli pertanian asal Indonesia untuk memberikan pelatihan kepada para petani di negaranya,” jelas Surachman. Cla/BPPSDMP

 

Hidroponik, Angin Segar Masyarakat Palestina

 

Bagaimana tanggapan dari peserta pelatihan asal Palestina? Rata-rata mereka mengapresiasi baik pelatihan pertanian di Indonesia. Contohnya, Mohammedsaid R. A. Allahham mengatakan, pelatihan budidaya hidroponik yang dilaksanakan di Indonesia sangat bermanfaat sekali karena sesuai kondisi iklim Palestina.

 

Dia mengakui, selama ini akses negara tersebut sangat terbatas, terutama pengelolaan air yang didominasi Israel. Apalagi di tempat pengungsian, lahan dan air sangat minim. “Dengan hidroponik, membawa angin segar bagi masyarakat Palestina untuk dapat becocok tanam dengan segala keterbatasan yang ada,” katanya.

 

Begitu juga Imad S.I. EID mengatakan, senang sekali dengan pelatihan mengenai hidroponik dan teknik pengemasan karena sangat berguna untuk diterapkan di negaranya. “Kami senang sekali. Ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Palestina. Pelatihan mengenai hidroponik dan teknik pengemasan menjadi hal yang penting untuk dikembangkan di negara kami, Palestina,”  ujarnya. Cla/BPPSDMP

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066