• Search
  • Menu
Read Detail

Kucuran Laba dari Hidroponik

11:43 WIB | Tuesday, 08-March-2016

Keterbatasan lahan selama ini menjadi kendala dalam berusahatani, khususnya tanaman sayuran. Tapi dengan teknologi hidroponik, hambatan tersebut bisa teratasi. Laba pun akan mengucur deras. 

 

Boleh dikatakan, pada masa mendatang hidroponik men­jadi usaha bercocok tanam sayuran masa depan. Apalagi pola pikir masyarakat mulai berubah yang menuntut produk pangan sehat dan higienis, tanpa terkontaminasi pupuk dan pestisida kimia.

 

Dengan segala keterbatasan lahan dan kualitas tanah yang makin mengkhawatirkan membuat pelaku usaha pertanian berpikir keras untuk menjawab persoalan tersebut. Akhirnya tercipta tek­nologi pertanian yang beralih menggunakan media air sebagai suplai nutrisi tanaman.

Hidroponik, aeroponik dan akuaponik adalah teknologi terap­an di bidang pertanian yang menggunakan media air. Biasanya kegiatan hidroponik cenderung menanam tanaman sayuran karena lebih mudah diaplikasikan dan panennya cepat.

Sehingga menanam sayuran secara hidroponik banyak dite­rapkan di pekarangan rumah yang lahannya tergolong sempit. Lantaran tidak menggunakan tanah, otomatis hasil panen menjadi lebih bersih dan jarang terkena hama dan penyakit tanaman yang banyak berasal dari tanah. 

Pakar hidroponik, Kunto Her­wibowo mengatakan, pertanian hidroponik adalah menanam de­ngan cara menggantung tanaman menggunakan styrofoam atau bahan yang bisa mengapung di atas air. Akarnya dibiarkan menjulur ke bawah pada tempat penampungan air yang telah diberi nutrisi.

Catatan Kunto, hingga kini baru sekitar 200 ha hidroponik skala besar. Namun Kunto memprediksi, akan terus bertambah seiring dengan kebutuhan masyarakat terhadap produk sayuran sehat, tanpa pestisida. “Perbedaan nyata komoditi yang menggunakan metode hidroponik lebih bertekstur renyah karena kandungan nu­trisinya terukur dibandingkan menggunakan tanah,” katanya.

Peluang usaha dari usaha hidroponik terbuka lebar. Mulai dari penyediaan alat hingga penyaluran sayuran hidroponik. Sayuran hidroponik kini bisa menjadi ladang bisnis yang meng­untungkan. Karena termasuk pro­duk organik, harganya jauh lebih mahal ketimbang tanaman non organik.

Salah satu pemain besar pertanian hidroponik adalah Parung Farm yang terletak di Parung, Bogor. Di lahan seluas 4 hektar (ha), aneka sayuran diproduksi dengan metode hi­droponik.  Bahkan tuntutan per­­mintaan pasar yang besar men­dorong Parung Farm menambah lahan di Cianjur seluas 7 ha.

Direktur Produksi dan Ke­mitraan Parung Farm, Yudi Supri­yono mengatakan, permintaan sayuran hidroponik selalu melon­jak setiap tahunnya. Kenaikannya sekitar 5-15% tiap tahunnya. “Harganya pun lebih mahal dari pada sayur yang ditanam di tanah,” ujarnya.

Sasaran konsumen sayur hidroponik tentu saja kalangan menengah ke atas, sehingga pemasaran terbuka di retail pasar modern hingga supermarket. Pasalnya, kualitasnya lebih baik dibandingkan sayuran yang dibudidayakan konvensional.  

“Kelebihan lain dari produk hidroponik daya tahannya lebih lama hingga empat hari. Sementara, sayuran yang ditanam dengan metode konvensional hanya bisa disimpan selama dua hari,” kata Yudi.

Parung Farm dalam sehari mampu memproduksi sekitar 700 kg sayuran dengan omset sekitar Rp 100 juta/hari. Angka tersebut termasuk share keuntungan sekitar 15-25% setiap bulannya.

 

Menanam di Pekarangan

Metode hidroponik pun ma­kin berkembang dengan tidak mengharuskan memiliki lahan green­house sebagai lokasi. Di pekarangan rumah, masyarakat juga bisa menanam hidroponik, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk usaha rumah tangga.

Yudi Supriyono menuturkan, metode hidroponik memang bisa dilakukan di halaman rumah dengan peralatan yang terbatas. Misalnya, bak penampungan air,  paralon, pompa, talang air hingga stryfoam bekas. Pilihan sayuran yang bisa dibudidayakan menggunakan metode hidroponik rumahan juga cukup banyak, seperti sawi, kangkung, pakcoy, kailan, seledri, kemangi hingga tanaman cabai.

Kepala Produksi Amazing Farm di Lembang, Sinung juga mengakui, menanam sayuran secara hidroponik sangatlah mudah dan tidak perlu modal banyak, tapi menghasilkan hingga berkali-kali lipat keuntungan. Kalkulasinya, untuk menanam satu pot (per pohon) tomat beef (tomat besar yang kadar airnya sedikit) hanya mengeluarkan biaya Rp 18 ribu. “Jika panen, tiap satu siklus selama lima bulan, satu pohon dapat menghasilkan hingga 5 kg  dengan harga terendahnya Rp 15 ribu/kg,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim