• Search
  • Menu
Read Detail

Sayuran Hidroponik Minim Pemain, Pasar Menggiurkan

21:42 WIB | Tuesday, 09-February-2016

Meningkatnya jumlah warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Indonesia ternyata mampu mendongkrak konsumsi sayuran hidroponik. Tentu saja ini menjadi peluang baik yang bisa dimanfaatkan petani.

 

Teknologi dalam berbudidaya sayuran memang harus dikuasai betul petani. Banyak peluang yang bisa dijaring dengan pemanfaatan teknologi tersebut. Salah satunya sistem hidroponik yang menggunakan media air terbatas.

 

Banyak jenis sayuran yang bisa ditanam dengan sistem ini seperti kangkung, selada, pakcoy hingga caisim. Serupa dengan tanaman organik, sayuran hidroponik ini juga lebih diminati kaum ekspatriat alias warga negara asing yang tinggal dan bekerja di Indonesia, dibandingkan sayuran yang ditanam dengan cara konvensional.

 

Seperti diungkapkan praktisi hidroponik Indonesia dan pemilik PT. Tropical Rain Indonesia, Kunto Herwibowo. “Meningkatnya jumlah ekspatriat di kota-kota besar telah membuka peluang hingga meningkatkan omset,” katanya.

 

Bahkan harga sayuran hidroponik cukup menggiurkan. Bayangkan saja, selada bisa dilego dengan harga sekitar Rp 50 ribu/gram. Padahal dengan lahan hanya 270 meter persegi bisa menghasilkan 600 kg. Sedangkan ongkos produksi hanya Rp 20 ribu/kg. “Terlihat jelas kan untungnya?,” ujarnya.

 

Produsen Masih Minim

 

Kunto mengakui, di wilayah Jabodetabek pemain usaha sayuran kelas premium seperti ini masih sangat sedikit. Padahal, ekspatriat banyak tinggal dan bekerja di kawasan ekonomi ini.

 

Untuk memenuhi permintaan pasar, dalam tiga tahun terakhir pihaknya membangun di lima lokasi berbeda di sekitar Jakarta. Namun hingga kini produksinya masih sebatas memenuhi pasar Jakarta saja. “Saya tidak hanya memasarkan ke pasar modern, tapi juga langsung menyuplai barang ke hotel-hotel dan restoran dengan segmen konsumen asing,” ujarnya.

 

Selain di Jakarta, Kunto mengatakan, pihaknya juga memiliki dua lahan yakni di Kota Batam dan Pekanbaru. Untuk lahan pertanian yang berada di Batam, produksi sayuran selada sudah menarik minat pengusaha asal Singapura.

 

“Konsumen selada memang paling banyak di Singapura. Selama ini pasokannya dari Malaysia. Karena kebutuhan makin meningkat, makanya ada kerjasama juga dengan kami (Indonesia),” ungkapnya.

 

Guna memenuhi permintaan, Kunto tak hanya memperluas areal tanam, tapi dia menggunakan sistem petani plasma. Pihaknya bekerja sama dengan masyarakat yang memiliki luas lahan tertentu untuk budidaya hidroponik secara bersama-sama.

 

Kunto mengingatkan, karena usaha sayuran sangat sensitif dalam transportasi, sehingga perlu adanya pendekatan lahan dengan pasar itu sendiri. Sedangkan lahan pertanian di Jakarta sendiri sudah semakin menyempit. “Inilah gunanya teknologi hidroponik untuk memproduksi sayuran sehat,” ujarnya.

 

Kunto sendiri menyiapkan modal sekitar Rp 150 juta untuk membangun instalasi hidroponik. Karena itu, agar bisa meraup untung dalam usaha pertanian, dia mengembangkan teknologi hidroponik dengan menanam sayuran bernilai ekonomi tinggi.

 

Salah satu produsen sayuran hidroponik lainnya adalah Parung Farm. Direktur Produksi dan Kemitraan Parung Farm, Yudi Supriyono menuturkan, peluang usaha pertanian hidroponik sangat menggiurkan. “Potensinya sangat bagus apalagi di masa depan,” ujarnya.

 

Keuntungan lain hidroponik sangat mudah diusahakan petani. Salah satunya, petani lebih mudah mengontrol nutrisi yang diperlukan tanaman. Sementara itu,  kalau menggunakan tanah, nutrisi tak bisa dideteksi. “Kalau pakai air, kami bisa mengukur apakah nutrisi sudah cukup atau harus ditambah dengan pupuk,” ujar Yudi. Gsh/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066