• Search
  • Menu
Read Detail

Transformasi Pertanian Padi Suatu Keharusan

22:28 WIB | Thursday, 14-January-2016

Kegiatan pertanian,  termasuk pertanian padi akan selalu menghadapi tantangan berbagai faktor internal dan eksternal. Penyesuaian antisipatif perlu dilakukan  untuk  mempertahankan daya saing bahkan juga kelayakan eksistensial.

 

Satu artikel yang mengangkat topik ini  muncul dalam majalah IRRI Rice Today edisi terbaru dengan judul  “The ongoing transformation of rice farming in Asia”. Tulisan itu mencatat beberapa  perubahan eksternal penting yang mempengaruhi pola dan bentuk pertanian padi khususnya di Asia yang produsen utama beras dunia. Pertanian padi di Asia unik karena didominasi oleh pertanian skala kecil. Tercatat pula bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ini meningkat pesat dalam dua setengah dekade terakhir.

 

Laporan berdasarkan hasil pengamatan tim pakar IRRI, Dr. Samarendu Mohanty dkk itu menyoroti  tiga faktor eksternal yang menuntut transformasi dalam arah dan bentuk pertanian padi, khususnya yang skala kecil di Asia. Ketiga faktor itu adalah kelangkaan  tenaga kerja, kenaikan upah dan perubahan selera pasar dan konsumen.  Petani kecil harus melakukan penyesuaian agar usahatani padinya mencapai skala ekonomi.

 

Trend Pasar

 

Pertumbuhan ekonomi yang kuat di Asia telah mempercepat arus  urbanisasi.  Akibatnya, penanganan usahatani di pedesaan semakin bertumpu pada kaum wanita dan para lanjut usia. Hasil studi Dr. Mohanty dkk tersebut mencatat rerata usia petani di Pilipina naik dari 44 tahun pada 1980 menjadi 58 tahun pada 2011, di Bangladesh dari 44 tahun pada 1988 menjadi 51 tahun pada 2011 dst. Peran wanita dalam penguasaan lahan meningkat nyata di berbagai negara, di Thailand meningkat dari 15% menjadi 27% dalam periode 1993-2003.

 

Berkembangnya usaha non pertanian di pedesaan ikut mengurangi ketersediaan tenaga kerja pertanian. Kelangkaan tenaga kerja pertanian menyebabkan kenaikan pesat upah tenaga kerja pertanian di Asia. Di Tiongkok upah naik 90% dalam periode 2003-2007, di India 35% antara 2005/2006-2012/2013, di Indonesia 50% dari pertengahan 2005 hingga 2009, dst.

 

Pertanian padi juga menghadapi trend perubahan selera pasar dan konsumen yang terkait dengan peningkatan kemakmuran dan jumlah penduduk perkotaan di Asia. Rerata pendapatan per kapita di Asia tahun 2030  akan bisa menyamai tingkat masyarakat Eropa saat ini. Semua ini menuntut inovasi pelayanan  pasar, kuantitas, kualitas, jenis dan karakteristik produk padi/beras yang dipasarkan. Bahkan juga inovasi kemudahan dan kepraktisan pengolahan dan konsumsi.

 

Tim peneliti IRRI tersebut melihat sejumlah trend jangka panjang pola pemasaran dan selera konsumen yang perlu diperhatikan selaras peningkatan pendapatan dan pembengkakan penduduk perkotaan. Di antaranya, diversifikasi jenis makanan yang dikonsumsi (food basket) akan mengarah pada  produk bernilai tinggi seperti daging buah dan sayuran. Kualitas beras yang dikonsumsi  bergeser dari rendah ke yang lebih tinggi. Pilihan konsumen akhir terus bergeser ke arah produk olahan beras.

 

Di perkotaan, beras dalam kemasan (packaged rice) akan semakin populer. India paling aktif mengembangkannya disusul Vitenam, Thailand dst. Konsumen perkotaan semakin cenderung mengapresiasi produk bermerek (branding) dan berlabel. Juga beras dengan fungsi khas seperti indek glikemik rendah bagi penderita diabetes, beras dengan kandungan tinggi serat dan mineral, yang unggul antioksidan, yang diperkaya vitamin A dlsb.

 

Tuntutan konsumen perkotaan sudah pula mengarah pada kemudahan memasak produk makanan. Untuk melayaninya sudah muncul nasi dalam box yang siap konsumsi setelah dimicrowave (ready-to-eat microwaveable rice boxes).  

 

Transformasi Usahatani

 

Terkait  tantangan faktor-faktor eksternal tersebut, tim peneliti  melihat  dunia usahatani padi itu sendiri sudah mulai memberi jawaban. Transformasi pertanian padi sudah bermunculan  dalam berbagai aspeknya.

 

Dinyatakan, kenaikan upah hingga 45% dari seluruh biaya mendorong petani melakukan upaya beralih dari pertanian padat karya. Mekanisasi mulai diadopsi untuk pengolahan tanah, tanam bibit, panen, dan perontokan padi dengan cara menyewa peralatan atau mesin. Bisnis pelayanan peralatan mekanisasi  di pedesaan bertumbuh pesat. Di India, satu unit usaha pelayanan mekanisasi bisa melayani pengguna secara bergilir hingga rentang jalur pelayanan mendekati 1.000 km.

 

Untuk lebih mampu menjangkau pelayanan mekanisasi, petani kecil menerapkan aneka-model konsolidasi lahan. Di Vietnam, dengan model “Petani Skala Kecil, Lahan Luas” para petani kecil menyatukan (pooling) lahan mereka menjadi kesatuan seluas 50 – 500 hektar. Model ini dapat menekan biaya per unit pelayanan mekanisasi. Model lain diinisiasi Asosiasi Penggilingan Padi Suophanburi bersama Pusat Riset Padi Suophanburi yakni skema usaha tani industrial. Petani kecil diajak menanam satu varietas padi dengan waktu tanam dan panen sinkron pada luasan hingga 400 hektar. Biaya panen dapat ditekan sebesar 20-30%.

 

Di banyak negara Asia, kekurangan tenaga kerja memberi kesempatan petani kecil melakukan modernisasi pertanian dengan menambah lahan garapan dengan menyewa lahan yang menganggur. Untuk menekan biaya banyak pula petani yang melakukan tanam benih langsung, mengadopsi sistem pengairan selang-seling (alternate wetting and drying) pengganti irigasi genangan, dan penggunaan varietas tahan stres.

 

Dari studi ini, tim peneliti IRRI menyimpulkan bahwa menghadapi situasi trend selera pasar dan konsumen, terjadinya kekurangan tenaga kerja serta kenaikan upah, maka untuk bisa meraih skala ekonomi petani kecil padi harus melakukan mekanisasi pertanian. Peluangnya adalah  melalui kepesertaan dalam model baru penyatuan dan konsolidasi lahan. Sebagai konsekuensinya, inovasi itu akan bergerak ke arah modernisasi  dan komersialisasi usahatani padi yang berkelanjutan dan terpadu secara vertikal dengan rantai pasok.  Olson PS

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066