• Search
  • Menu
Read Detail

Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat, Hazairin - Hazton, Meningkatkan Produksi Padi Dua Kali Lipat dalam Semusim

10:46 WIB | Tuesday, 12-January-2016

Rekayasa teknologi budidaya padi terus dilakukan untuk bisa meningkatkan produktivitas padi di tingkat lapangan. Salah satunya adalah teknologi budidaya padi Hazton yang direkayasa oleh Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat, Hazairin bersama Staf-nya Anton Kamaruddin. Teknologi ini merekayasa pembentukan rumpun padi secara padat agar bisa bermalai semuanya. Teknologi ini diyakini bisa meningkatkan produksi padi dua kali lipat dalam semusim atau disebut quantum life. Berikut ini wawancara khusus Tabloid Sinar Tani dengan perekayasa Teknologi Hazton di ruang kerjanya.

 

Teknologi budidaya Hazton sering disebut teknologi spesifik lokasi Kalimantan Barat, apakah memang demikian?

 

Sudah ratusan varietas padi yang dihasilkan para peneliti kita, tapi hasil produktivitasnya di lapangan masih segitu-gitu juga. Naiknya tidak seberapa. Rata-rata produktivitas padi di Jawa masih 57,98 kuintal per ha, di Sulawesi 49,56 kuintal per ha, di Kalimantan 36,58 kuintal/ha, di Sumatera 47,61 kuintal/ha, Maluku 39,90 kuintal/ha dan Papua 41,06 kuintal/ha.

 

Setelah saya pelajari, rata-rata tingkat produktivitas padi di lapangan itu ditentukan, pertama, jumlah rumpun dalam luasan. Kedua, jumlah tanaman bermalai dalam satu rumpun. Jumlah tanaman bermalai dalam satu rumpun umumnya yang kita dapatkan di sini sebanyak 17. Kita mau bikin dua kali lipatnya. Teori yang saya peroleh, maksimal tanaman bermalai dalam satu rumpun 40. Maka saya punya hipotesa kalau sejak awal kita buat 40 tanaman padi yang bisa bermalai semuanya. Maka saya berpikir tanaman itu, ditanam sudah berumur tua dalam jumlah yang padat sehingga dia tidak perlu beranak. Semua tanaman dalam rumpun itu bisa berbunga dan membentuk malai.

 

Saya ingin hipotesa itu terbukti. Selama ini saya lihat pertanaman padi kita tidak efisien, satu rumpun terdapat 40 anakan, tapi yang jadi malai 17. Kondisi itu juga membuat pemakaian pupuk tak efisien. Kalau yang ditanam, tanaman induk pasti keluar malainya.

 

Apa yang Anda lakukan untuk membuktikan hipotesa tersebut?

 

Saya buat penelitian kecil, riset pertama 13 Januari 2012, budidaya dalam pot, saya tungguin. Dalam perkembangannya, ada anakan 52 tanaman, lalu bunting. Ternyata waktu buntingnya lebih cepat karena tanpa beranak pinak. Saya senang lihat tanaman padi bunting hingga pecah jadi 42 tanaman bermalai serentak, umurnya sama. Saya tinggal menghitung produksi. Sayang sebelum saya hitung tanaman padi tersebut diserang hama tikus.

 

Pada September 2012, kami melakukan riset tanam kedua, bikin bak plastik setinggi 60 cm agar tikus tidak bisa masuk, ada 42 pot, dengan beberapa varietas: hibrida, situ bagendit, padi ladang. Perlakuannya tanam 1 batang, tanam 5 batang, tanam 10 batang, tanam 20 batang, tanam 30 batang. Ulangan 3 kali, ditutup jaring agar burung tidak masuk.

 

Hasilnya, yang tanam padat lebih cepat keluar malai. Malai relatif serentak dan seragam. Satu polibag dapat 250-300 kg gabah, jadi beras 1 ons. Cuma perlu 10 polibag untuk dapat 1 kg beras.

 

Riset ke-3, kita buat demplot padi dalam pot sebanyak 960 pot, di belakang kantor. Sekarang tempatnya sudah jadi sawah. Umur 63 hari setelah tanam, tanaman sudah keluar malai, tanaman yang bibit satu belum. Bibit hibrida juga sama. Situ bagendit juga sama. Hazton ada 65 tanaman dan anakannya yang produktif 50 tanaman.

 

Kita juga coba di sawah petani, di lahan pasang surut, hasilnya 13,5 ton per ha di Sei Kakap, bahkan ada yang 16 ton per ha.

 

Apakah sudah dilakukan penanaman di berbagai tempat di sawah-sawah petani?

 

Bank Indonesia (BI) coba tawarkan teknologi Hazton ini ke petani. Harapan BI, bila produksi padi naik, bisa membantu stabilitas rupiah. BI lakukan sosialisasi dan training teknologi ini untuk petani. Penyuluh dilibatkan. Penyuluh semangat, gara-gara Hazton. Kita diundang sebagai tim. Panennya, lebih bagus dari yang biasa.

 

Pertengahan Agustus 2013, Pak Rusman Heriawan (Wakil Menteri Pertanian --Red) hadir ikut panen padi teknologi Hazton hasilnya ada yang 9 ton/ha dan ada yang 11 ton/ha. Esok harinya, BPS melakukan pengulangan ubinannya, takut salah, hasilnya kurang lebih sama.

 

Pak Rusman lah yang memberi nama teknologi ini Hazton. Disebutnya sebagai lompatan Quantum Life (2 kali) hanya dalam satu musim. Semula kita akan beri nama tanam bibit padat. BI memilih namanya Hazton, hasilnya berton-ton. Kata-kata itu ungkapan yang luar biasa. Penekanan dengan huruf Z.

 

Bagaimana peluangnya untuk peningkatan produksi padi di Kalbar?

 

Di Kalbar masih ada 7 kabupaten yang minus, namun dalam satu Provinsi Kalbar, produksi padinya surplus. Andai produktivitasnya bisa dinaikkan dari 3 ton/ha menjadi 5 ton/ha saja dengan menggunakan teknologi Hazton ini, maka kita akan surplus padi lebih banyak lagi.

 

Paket lengkap penerapan teknologi Hazton ini menghabiskan biaya Rp 6 juta/ha. Hasilnya, beras kepalanya lebih tinggi karena umur tanaman sama. Biasanya beras pecah adalah untuk gabah-gabah yang masih muda. Daya adaptasi tinggi, karena ada saling bantu. Penggunaan pupuk efisien. Ini adalah rekayasa budidaya rumpun padi. SRI adalah mengarah ke efisiensi bibit bukan pada produktivitas.

 

Di Balai Benih Induk Peniraman, hasil padi ubinannya 16,78 ton/ha sebelumnya 4-5 ton per ha. Petani padi bernama Sukiman di Desa Semparuk, Sambas, Kalbar, punya 1.600 m2 hasilnya 2,5 ton atau 15 ton per ha, sebelumnya 4-6 ton per ha. Akhirnya dia menanam 4 ha, bisa 3 kali setahun, hasilnya 9 ton per ha. Penanaman padi Rojolele dengan sistem Hazton di Desa Penrawa umur panen 100 HST, produksi 7,5 ton GKS biasanya 3-4 ton per ha. Yang ketiga pada Mei-Juni 2015, hasil panen 9 ton per ha. Di Desa Sedahan, Kayong Utara, Kalbar penerapan budidaya Hazton dengan padi varietas Ciherang panen 12,4 ton per ha. John Sinaga di Simalungun Sumut dengan Hazton hasil produksinya 11,5 ton per ha. Di Nias produksi 8,3 ton per ha biasanya 3-4 ton per ha. Di Klaten Jawa Tengah, Pak Alif bisa dapatkan hasil padi sawahnya 9 ton per ha dengan metode Hazton.

 

Bagaimana hasil kajian Hazton di Balai Besar Padi Sukamandi?

 

Teknologi ini sudah dikaji di BB Padi Sukamandi, dengan beberapa perlakuan. Pertama Hazton murni. Kedua, Hazton modifikasi dosis pupuk dengan mengukur fisiologis tanaman. Hazton bibit umur 17 hari dengan pola PTT, PTT murni, dan pola SRI. Som

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto