• Search
  • Menu
Read Detail

Prospek Komoditi Utama Perkebunan

19:05 WIB | Monday, 11-January-2016

Saat ini total luas lahan yang potensial untuk pertanian sekitar 70 juta ha, yang efektif hanya 45 juta ha. Untuk perkebunan, kurang lebih ada 18 juta ha dan produk perkebunan Indonesia sebagian besar untuk pasar ekspor.

 

Komoditi perkebunan untuk tujuan ekspor adalah sawit, karet, kakao, vanilla, lada, kopi, teh dan masih banyak lainnya. Bahkan Indonesia tercatat sebagai negara pengekspor sawit terbesar di dunia. Karenanya tak mengherankan bila sawit menjadi komoditi utama di perkebunan dengan luas lahannya mencapai 10 juta ha.

 

Prospek sawit Indonesia sangat baik di masa depan, terutama untuk mendukung pengembangan industri hilir di dalam negeri. Misalnya industri oleokimia, personal care, margarin, shortening, emulsifier dan masih banyak lainnya. “Bukan itu saja, sawit dapat menjadi alternatif energi terbarukan karena keberadaan minyak bumi yang semakin terbatas,” kata mantan Menteri Pertanian, Anton Apriantono dalam suatu diskusi mengenai prospek komoditi utama perkebunan yang berlangsung di Jakarta belum lama berselang.

 

Sawit tidak sebatas buahnya, tetapi limbahnya pun dapat dimanfaatkan. Tandan kosong dapat dijadikan pupuk organik. Tempurung buah dapat dijadikan arang aktif, pulp dapat dibuat dari batang dan tandan, panel wood dari batang serta pakan ternak dari batang dan pelepah.

 

Karet yang menjadi komoditas ekspor terbesar kedua di Indonesia, ternyata prospeknya juga masih besar. Anton mengatakan bahwa dengan adanya kesadaran terhadap lingkungan, penggunaan bahan alami akan lebih besar dibandingkan yang sintetik. Selain itu, pembuatan karet sintetik pun mengalami hambatan karena bahan bakunya menggunakan minyak bumi dan batu bara yang persediaannya semakin terbatas.

 

Karet tidak hanya dimanfaatkan getahnya, melainkan kayunya pun dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dapat dijadikan bahan bangunan, furniture, particle board, parquet, MDF (Medium Density Fibreboard), dan lain-lain.

 

“Karet dapat dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan sumberdaya alam dan manusia yang kita miliki. Kebutuhan akan karet alam pun meningkat di negara lain. Terutama Cina dan India,” tuturnya.

 

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengatakan bahwa prospek komoditas perkebunan sangat baik, mengingat kebutuhan di masyarakat (terutama sawit dan karet) semakin meningkat.

 

Tetapi sayangnya produksi tanaman perkebunan mengalami penurunan akibat menurunnya kesuburan tanah, harga jualnya yang rendah, serta harga sarana produksi pertanian (saprotan) yang semakin mahal.

 

Saat ini masih sulit mencari bibit yang mutunya baik, pupuk non subsidi juga tidak selalu tersedia. “Bagi perkebunan besar memang tidak bermasalah, tetapi perkebunan rakyat banyak sekali masalahnya,” jelasnya.

 

Ada masalah, tentu saja ada solusi. Winarno menjabarkan beberapa solusi yang tepat agar perkebunan rakyat dapat semakin berkembang. Pertama adalah memanfaatkan limbahnya. Di tanaman sawit dan karet, limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Beberapa petani sudah memanfaatkan limbah dengan dikumpulkan di bawah pohon, dengan harapan kalau sudah membusuk dapat diserap oleh tanaman.

 

Kedua, memelihara sapi. Ada beberapa petani yang bisa mendapatkan pinjaman modal dari bank atau mengikuti pola kerjasama bagi hasil kemudian memelihara sapi bahkan sebagian membuat kandang di dekat perkebunannya. Dengan begitu, urin dan kotoran ternaknya akan menjadi pupuk yang sangat baik bagi tanaman sekaligus penghematan biaya pupuk.

 

Ketiga, memanfaatkan limbah daun sawit segar sebagai pakan ternak. “Ke depannya perkebunan ini harus mengarah pada zero-waste. Selain mengangkat harga, kesejahteraan petani pun bisa meningkat,” tutur Winarno. Cla/Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066