• Search
  • Menu
Read Detail

Strategi BPPSDMP Kawal Upsus

17:07 WIB | Wednesday, 20-May-2015

Dalam Upaya Khusus (Upsus) swasembada tiga komoditas (padi, jagung, dan kedelai), kegiatan yang dilakukan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (Badan PPSDMP) adalah pengawalan dan pendampingan. Sebagaimana ruang lingkupnya, Badan PPSDMP mempunyai wewenang sebagai pengawal dan pengaman penyaluran benih, pupuk, dan alsintan kepada kelompok penerima manfaat.

 

Selain itu, mengawal gerakan perbaikan jaringan irigasi, tanam serentak, dan pengendalian OPT. Penerapan teknologi peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai lewat GP-PTT, PAT, dan optimasi lahan pun harus didampingi oleh para penyuluh. Jika terdapat varietas unggul baru melalui pengujian teknologi oleh PTN pun harus didampingi para penyuluh.

 

“Semua kegiatan pengawalan dan pendampingan ini, nanti semuanya harus dilaporkan. Jadi dapat diketahui langkah selanjutnya yang harus dilakukan,” kata Kepala Badan PPSDMP, Winny Dian Wibawa.

 

Bagaimana strateginya agar dapat berjalan lancar dan terkoordinir? Winny menjelaskan strategi-strategi yang dilakukan adalah membuat dan memperkuat Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (BP3K) sebagai Pos Simpul Koordinasi Pengawalan dan Pendampingan. Setelah itu dilaksanakan Diklat Teknis bagi Penyuluh Pertanian dan Bintara Pembina Desa (Babinsa).

 

“Pengawalan dan pendampingan ini, tidak hanya dilakukan oleh para penyuluh (PNS dan THL) dan Babinsa saja, melainkan mahasiswa dan penyuluh swadaya (petani) pun dilibatkan. Selain itu, STPP dan BBPP pun dilibatkan dalam pengawalan peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai di BP3K Binaan,” paparnya.

 

Meski pengawalan dan pendampingan ini dilakukan penyuluh, Babinsa, dan mahasiswa, tentu saja tugasnya berbeda-beda. Untuk penyuluh, tugas-tugasnya adalah melaksanakan pengawalan dan pendampingan pelaksanaan GP-PTT, POL, RJIT, dan PAT.

 

Selain itu, meningkatkan kemampuan kelembagaan petani (Poktan, Gapoktan, P3A, dan GP3A) dan kelembagaan ekonomi petani. Mengembangakan jejaring dan kemitraan dengan pelaku usaha, dan melakukan identifikasi pendataan serta pelaporan teknis pelaksanaan kegiatan.

 

Sementara tugas Babinsa adalah menggerakkan dan memotivasi petani untuk tanam serentak, perbaikan dan pemeliharaan jaringan irigasi, gerakan pengendalian OPT, dan panen. Mereka pun harus mendukung pula dalam keadaan tertentu. Misalnya penyaluran benih, pupuk, dan alsintan tepat sasaran serta melaporkan infrastruktur jaringan irigasi.

 

“Agar kegiatan Upsus yang dicanangkan berjalan sebagaimana mestinya, para Babinsa ini harus melakukan pengawasan terhadap pemberkasan administrasi, penyaluran bantuan, dan pengawasan dalam identifikasi, pendataan dan pelaporan, serta teknis pelaksanaan kegiatan,” tuturnya.

 

Adapun mahasiswa tak luput dalam pengawalan dan pendampingan, tapi harus dilakukan bersama dengan penyuluh. Tugasnya adalah melaksanakan pengawalan dan pendampingan pelaksanaan GP-PTT, POL, RJIT, dan PAT. Memfasilitasi introduksi teknologi dari Perguruan Tinggi, mengembangkan jejaring dan kemitraan dengan pelaku usaha serta identifikasi pendataan dan pelaporan teknis pelaksanaan kegiatan.

 

“Kegiatan yang harus dilaksanakan dalam Upsus kali ini adalah pastikan sasaran tanam, dan  panen terjabarkan sampai tingkat desa melalui sinergisitas dengan dinas terkait serta melaksanakan yang sudah direncanakan sesuai dengan target. Laporan mingguan Upsus menjadi indikator kinerja kelembagaan penyuluhan,” kata Winny.

 

Tiga Kegiatan Pokok

 

Kegiatan penyuluhan pertanian ini terbagi ke dalam tiga kegiatan, yakni peningkatan kapasitas BP3K, pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra Pajale (padi, jagung, dan kedelai), serta penumbuhan dan pengembangan penyuluh pertanian swadaya.

 

Peningkatan kapasitas BP3K, kata Winny, yakni dengan cara temu teknis penyuluhan di tingkat kecamatan, percontohan/demplot, latihan serta kunjungan dan supervise, rembug tani kecamatan, Farmers Field Day. Selain itu menyusun rencana kerja di tingkat kecamatan, kursus tani di tingkat kecamatan, pemberdayaan kelompok tani, penumbuhan penyuluh swadaya, dan penyusunan serta penyebaran media informasi spesifik lokasi di BP3K.

 

Pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra pangan dengan, KTD (Kursus Tani Desa), RTD (Rembug Tani Desa) dengan Gerakan RJIT/Tanam Serentak/POPT/Pemupukan/Panen dan Ubinan, bahan pembelajaran kursus tani, bantuan transport, dan ATK. Kegiatan penumbuhan dan pengembangan penyuluh pertanian swadaya dengan cara, kursus tani, bahan pembelajaran kursus tani, dan bantuan transport penyuluh.

 

Dari yang dijelaskan Winny, peningkatan kapasitas BP3K tersebar di 1.100 unit, pengawalan dan pendampingan penyuluh di sentra lokasi Upsus 24 ribu unit, pemberdayaan penyuluh petani swadaya 10 ribu orang. Selain itu dilakukan diklat teknis penyuluh 10 ribu orang, diklat metodelogi penyuluhan bagi penyuluh swadaya 10 ribu orang, diklat teknis Babinsa 10 ribu orang, pemberdayaan P4S ada 300 P4S, dan pendampingan mahasiswa dan dosen (14 PTN dan 5 STPP) ada 8.610 orang.

 

“Untuk mahasiswa dan dosen harus yang sinergi dengan program akademik. Pendampingan yang dilakukan dosen dan mahasiswa selama 6 bulan atau dua musim tanam (April-Juni dan Juli-September). Pengawalan mahasiswa 100-200 ha per 8 kelompok tani,” tuturnya.

 

Mekanisme pendampingan yang dilakukan mahasiswa dan dosen melibatkan 5 STPP dan 14 Universitas Negeri/Institut Pertanian Negeri (PTN). Lima STPP yang terlibat adalah STPP Medan, STPP Bogor, STPP Magelang, STPP Malang, dan STPP Gowa. Sedangkan untuk PTN yang terlibat adalah Universitas Syah Kuala (Aceh), Universitas Sumatera Utara (Sumut), Universitas Andalas (Sumbar), Universitas Sriwijaya (Sumsel), Universitas Lampung (Unila), Institut Pertanian Bogor (Bogor), Universitas Gajahmada (Yogyakarta), Universitas Lambung Mangkurat (Kalsel), Universitas Tanjungpura (Kalbar), Universitas Brawijaya (Malang), Universitas Udayana (Bali), Universitas Mataram (NTB), Universitas Tadulako (Sulteng), dan Universitas Hasanuddin (Sulsel).

 

Para mahasiswa ini kata Winny, akan disupervisi dosen dan masyarakat tani. Untuk satu dosen, memegang 5-10 mahasiswa. Jika yang dari masyarakat tani ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Yakni, direkomendasikan oleh organisasi/asosiasi petani, diutamakan berlatar pendidikan pertanian, berdomisili di lokasi kabupaten pendampingan, serta berkelakuan baik dan berkomitmen terhadap program. Cla/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066