• Search
  • Menu
Read Detail

Teknologi HAZTON

20:00 WIB | Tuesday, 21-April-2015

Tuntutan kita untuk swasembada pangan, jangan membuat kita merasa berat melangkah dan terbebani, justru seharusnya kita semakin bersemangat dan semakin kreatif. Seperti apa yang dilakukan Kepala Dinas Pertanian Kalbar, Hazairin yang menemukan cara teknik pertanian yang baru dan terbukti berhasil dikembangkan di sejumlah areal pertanian di Kalbar. Ia menamakan teknik Hazton. Teknik ini sudah berapa kali diterapkan di Kalbar dengan luas tanam 600 hektare. Yakni di Kabupaten Pontianak, Sambas, Kubu Raya dan Kayong Utara. Semua daerah itu terbukti sudah merasakan dampak langsung dari penemuan teknik hazton.

 

Akan tetapi perlu pengkajian lebih jauh untuk mengetahui sejauh mana respon petani di daerah-daerah lain. Kementerian Pertanian sebagai tulang punggung pengkajian di seluruh Indonesia, memandang tidak ada salahnya untuk mencoba dan melihat efektivitas metode penanaman padi dengan ‘Teknologi HAZTON".

 

Munculnya teknologi Hazton berawal dari pengamatan di lapangan, bahwa para petani Kalbar yang menanam padi melakukannya  dengan cara menggunakan 1 – 3 bibit per lubang tanam, menghasilkan dalam satu rumpun padi 10 – 20 anakan vegetatif dan pada masa generatif menghasilkan 10 – 15 anakan produktif dengan produksi padi sekitar 3 – 4 ton/ha.

 

Tidak puas dengan produktivitas itu, di Kalimantan Barat telah mencoba melakukan penanaman padi dengan cara : 1 (satu) lubang tanam dengan populasi 1 – 5 bibit, 10 – 20 bibit, dan 20 – 30 bibit yang dikenal dengan “Teknologi HAZTON”. Dari hasil percobaan tersebut produksi yang terbaik adalah menggunakan 20 – 30 bibit per lubang tanam dengan anakan produktif per rumpun 45 – 50 batang dan jumlah bulir 200 – 250. Berdasarkan perhitungan dari 45 batang/malai menghasilkan 224 bulir bulir padi per malai dengan jumlah bulir per rumpun 10.080 bulir gabah. Apabila asumsi berat 1.000 bulir gabah beratnya 30 gram, berarti berat gabah per rumpun : (10.080 bulir gabah : 1.000) x 30 gram = 302,4 gram atau 0,3024 kg. Populasi per hektar dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm = 160.000 rumpun. Produksi Gabah Kering Panen (GKP) = 48.384 kg/ha atau 48 ton/ha Konversi menjadi beras = 24 ton/ha.

 

Dari hasil percobaan “Teknologi HAZTON” juga diketahui secara fisik tanaman lebih kuat dari serangan OPT, jumlah anakan lebih kuat karena dari anakan induk, malainya masak serempak serta masaknya bulir padi lebih cepat sekitar 2 minggu dari yang biasa dilakukan petani dan hasil percobaan penanaman padi “Teknologi HAZTON” yang telah dilakukan di Kalimantan Barat baik pada media dalam pot maupun di lahan petani seluas 0,75 Ha mendapat respon yang positif para petani karena mudah diterapkan, sehingga “Teknologi Hazton” ini bisa menjadi bahan pengkajian untuk diterapkan pada wilayah lainnya di Indonesia dalam upaya mendukung pencapaian swasembada pangan dalam 3 Tahun kedepan sesuai dengan yang kita targetkan.

 

Secara singkat dapat dikatakan Teknologi HAZTON adalah metode tanam padi dengan bibit padat yaitu 20 – 30 bibit per lubang tanam. Varietas yang akan digunakan terserah jenisnya, bisa  padi lokal maupun padi unggul. Perlu juga diketahui, metode Hazton yang menggunakan benih tua yang berumur 25-35 hari, dengan penanaman sebanyak 20-30 rumpun perlubang tanam, menjadikan seluruh rumpun tanaman merupakan tanaman induk. Diharapkan, secara keseluruhan akan menjadi indukan produktif, karena bibit berada di posisi tengah dan terjepit sehingga bibit akan cenderung tidak menghasilkan anakan, sehingga lebih produktif.

 

Sistem kerja teknik ini cukup sederhana. Cara yang biasanya petani gunakan, yakni teknik menanam, dari bibit yang ada kemudian dipindahkan dan dibagi-bagi lagi, sehingga hanya 3-4 tanaman yang ditanam. Tapi untuk teknik Hazton, bibit yang ingin ditanam tidak dibagi-bagi dan langsung ditanam hingga mencapai 20-25 tanaman. Caram pencabutan untuk metode Hazton dari tempat pembibitan harus hati-hati usahakan akarnya tidak banyak putus.

 

Teknik ini bisa dipakai untuk semua varietas dan bisa tumbuh baik di lahan basah maupun lahan kering di Kalbar. Para petani yang menggunakan teknik ini, padinya masak serentak hingga akan memudahkan petani karena tidak memanen hingga dua kali.

 

Keunggulan dari metode ini tentu saja hasil produksinya meningkat. Juga ada beberapa keuntungan lain, yaitu penanamannya mudah, tanaman cepat beradaptasi dan tidak stress. Karena bibit yang digunakan bibit tua, maka tanaman ini lebih tahan terhadap hama keong dan orong-orong, ketahanan bibit ini akan meminimalisir penyulaman, selain itu juga meminimalisir penyiangan. Karena rumpun padi Hazton ini sangat rapat maka  tidak memberi kesempatan pada gulma untuk ikut tumbuh diantara tanaman padi. Karenanya penyulaman dan penyiangan dapat diminimalisir.Otomatis metode ini juga menghemat biaya tenaga kerja.

 

Teknologi ini dapat mempercepat masa panen (-/+ 15 hari lebih cepat dibanding usia normal), mutu gabah tinggi (persentase hampa rendah), serta menghasilkan beras yang berkualitas tinggi (rendemen beras kepala tinggi, persentase beras pecah rendah). Secara konsep pengolahan tanah Metode Hazton tidak banyak berbeda dengan metode yang lain.

 

Apa yang saya gambarkan tentang teknologi Hazton yang merupakan teknologi pola tanam padi yang memaksimalkan sifat fisiologis dari tanaman padi ini, semoga bisa menjadi acuan dan panutan bagi semua bahwa kita secara aktif bisa berkarya sesuai dengan kondisi spesifik di daerahnya masing-masing. juga bisa menjadi bahan pengkajian untuk daerah lain apakah sesuai dengan spesifik lokasi masing-masing daerah. Terus berkarya, kreatif dan bekerja untuk swasembada pangan Indonesia.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066