• Search
  • Menu
Read Detail

Agro Science Park dan Agro Techno Park - Mengaliri Inovasi hingga ke Petani

16:38 WIB | Thursday, 19-March-2015

Transfer teknologi dan inovasi hasil pertanian ke petani ternyata masih menjadi persoalan. Bukan hanya bagi Indonesia, hampir sebagian besar negara-negara berkembang mengalami masalah yang sama.

 

Hal tersebut sempat terungkap dalam Dialog Kebijakan bertema “The Role of Technology Transfer in Agriculture for Sustainable Development Outcomes’ di Bogor, beberapa waktu lalu. Dialog tersebut diselenggarakan CAPSA (Centre for Alleviation of Poverty through Sistainable Agriculture).

 

Bagaimana Indonesia? Salah satu upaya Pemerintah Indonesia mempercepat aliran inovasi teknologi hingga ke petani adalah melalui Agro Science Park (ASP) dan Agro Techno Park (ATP). ASP dan ATP sendiri merupakan sebuah kawasan percontohan sekaligus penyedia teknologi pertanian. “Program tersebut merupakan bagian Queen Program Kabinet Kerja Jokowi,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, Haryono kepada Sinar Tani beberapa waktu lalu.

 

ASP nantinya dibangun di tingkat provinsi, sedangkan untuk ATP berada di kabupaten. Dengan program tersebut Haryono berharap akan memacu petani meningkatkan produktivitas hasil pertanian, maupun manajemen pengelolaan usaha pertanian.

 

Tahap awal tahun 2015 ini, ATP akan dibangun di 10 kabupaten sebagai pusat penerapan teknologi pertanian, serta tempat pelatihan, pemagangan, diseminasi teknologi dan pusat advokasi bisnis ke masyarakat luas. Sedangkan ASP akan dimulai di lima provinsi sebagai pusat pengembangan aplikasi teknologi yang tidak dapat ditangani di ATP. “Untuk program ini sudah disediakan anggaran sebanyak Rp 300 miliar,” ujarnya.

 

Untuk kelancaran program tersebut, Haryono mengatakan, pengembangan ASP dan ATP harus dikomunikasikan dengan pemerintah daerah. Dengan demikian, program tersebut bukan hanya milik pemerintah pusat tapi juga pemerintah daerah, dari mulai provinsi, kabupaten hingga kecamatan. “Program ini menjadi ownership bersama,” ujarnya.

 

Haryono menilai, untuk membangun ASP di tingkat provinsi akan lebih mudah. Sebab, di tiap provinsi Badan Litbang Pertanian sudah mempunyai embrio yakni BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian). Sedangkan untuk tingkat kabupaten hingga kecamatan memang harus dibangun jaringan baru.

 

Saat ini yang paling memungkinkan untuk dikembangkan menjadi ATP menurut Haryono adalah keberadaan P4S (Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya) yang sudah ada di tiap kabupaten. “P4S bisa menjadi embrio ATP. Tinggal kita memperkuat logistik, sarana dan prasarana, pasar dan peningkatan kualitas produknya,” katanya.

 

Pelaksanaan ASP dan ATP akan menggunakan konsep pertanian modern yang di dalamnya termasuk dukungan informasi teknologi. Nantinya ada link antara ASP ke ATP. ASP sebagai tempat pengkajian, sedangkan ATP menjadi tempat aplikasi dari teknologi yang dihasilkan.

 

Sementara itu Deputi bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Bappenas, Endah Murniningtyas berharap, ASP dan ATP dapat menjadi pusat pelayanan teknologi pertanian. Jadi bagaimana ASP melayani ATP dan ATP melayani petani. “Konsep ATP dan ASP ini merupakan kombinasi antara diseminasi teknologi dan pengawalan sampai dengan apa teknologi yang akan dilayankan,” ujarnya.

 

Endah mengatakan, tahap awal ini ATP dan ASP akan dibentuk di lokasi yang sudah siap. Dalam arti telah mempunyai infrastruktur dasar yang bisa digunakan sebagai lokasi program tersebut. “Balitbangtan yang mempunyai Unit Pelaksana Teknis di seluruh Indonesia dirasa telah siap untuk digunakan sebagai lokasi awal pembentukan ASP dan ATP ini,” tuturnya.

 

Diseminasi Masih Persoalan

 

Sementara itu Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Agung Hendriadi mengakui, di negara berkembang transfer teknologi memang masih menjadi persoalan. Masalahnya adalah tingkat pendidikan dan kemampuan daya beli petani. Kondisi ini sangat berbeda dengan petani di negara Eropa, Amerika Serikat dan Australia yang justru selalu menunggu teknologi terbaru.

 

“Yang kita kembangkan sekarang ini adalah membangun kelembagaan penelitian hingga tingkat daerah agar petani mudah mengadopsi hasil penelitian,” tuturnya. Kelembagaan tersebut lanjutnya, adalah BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian). Di lembaga itu kini ada sekitar 300 penyuluh peneliti yang akan mendelevery hasil penelitian dengan menjadi jembatan kepada petani.

 

Dengan membangun kelembagaan seperti BPTP menurut Agung, terbukti cukup efektif. Banyak hasil penelitian yang sudah dipakai masyarakat. Contohnya, varietas padi Ciherang yang kini hampir 70% ditanam petani.

 

Konsep kedua untuk mentransfer teknologi adalah membuat laboratorium lapangan dengan mambangun kawasan. Saat ini ada sekitar 12 laboratorium lapangan di seluruh Indonesia. Di laboratorium tersebut diterapkan hasil penelitian bekerjasama dengan penyuluh pertanian, masyarakat dan pemerintah daerah.

 

Agung mengatakan, dalam transfer teknologi bukan sekadar menyampaikan hasil penelitian. Tapi juga membangun tiga aspek. Pertama, software yakni hasil penelitian itu sendiri. Kedua, organoware yakni lembaga yang menyampaikan hasil penelitian. Sebab, untuk negara berkembang sulit mengharapkan petani untuk datang sendiri mencari teknologi baru.

 

Ketiga, humanware yakni pelaku atau orang yang menjelaskan hasil penelitian itu. Dalam hal ini adalah penyuluh pertanian. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. “Salah satu negara yang sudah cukup berhasil adalah Thailand dengan metode REL (research extension linkage),” ujar Agung.

 

Sebagai aplikasi dari membangun tiga aspek tersebut, mulai tahun ini akan dikembangkan ASP dan ATP. “Untuk tahun ini, Badan Litbang Pertanian dipercaya membangun ATP di 15 provinsi secara bertahap. Bisa di beberapa kecamatan atau satu kecamatan saja,” kata Agung. Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066