• Search
  • Menu
Read Detail

Transfer Teknologi Masih Jadi Persoalan Negara Berkembang

20:07 WIB | Tuesday, 24-February-2015

Transfer teknologi dan inovasi hasil pertanian ke petani ternyata masih menjadi persoalan negara-negara berkembang. Padahal di sisi lain persoalan pangan di dunia makin krusial dengan terus bertambahnya jumlah penduduk.

 

Hal itu terungkap dalam Dialog Kebijakan bertema “The Role of Technology Transfer in Agriculture for Sustainable Development Outcomes” di Bogor, beberapa waktu lalu. Dialog tersebut diselenggarakan CAPSA (Centre for Alleviation of Poverty through Sustainable Agriculture).

 

“Dengan pertemuan ini, diharapkan ada akselerasi dalam mentransfer teknologi yang dihasilkan lembaga penelitian. Kita akan berbagi pengalaman dari anggota-anggota,” kata Sekjen Kementerian Pertanian, Hari Priyono.

 

Diakui, transfer teknologi kepada petani menjadi sangat penting bagi semua negara, tertutama negara yang menjadi anggota CAPSA. Apalagi banyak faktor yang berpengaruh terhadap keamanan pangan dunia, terutama makin meningkatnya populasi penduduk.

 

Di sisi lain peningkatan produksi pangan juga menghadapi tantangan yang kian berat. Misalnya, perubahan iklim, degradasi dan konversi lahan pertanian dan makin terbatas sumberdaya alam. “Karena itu teknologi makin penting untuk meningkatkan produktivitas pangan, tidak hanya kuantitas, tapi juga kualitasnya,” ujarnya.

 

Bangun Kelembagaan

 

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Agung Hardiadi juga mengakui, hambatan peningkatan produksi pangan makin banyak. Karena itu dalam pertemuan ini akan ada saling tukar informasi mengatasi hal tersebut, khususnya dalam mentransfer teknologi hasil penelitian.

 

Di negara berkembang menurut Agung, transfer teknologi masih menjadi persoalan. Masalahnya adalah tingkat pendidikan dan kemampuan daya beli petani. Kondisi ini sangat berbeda dengan petani di negara Eropa, Amerika Serikat dan Australia yang justru selalu menunggu teknologi terbaru.

 

“Yang kita kembangkan sekarang ini adalah membangun kelembagaan penelitian hingga tingkat daerah agar petani mudah mengadopsi hasil penelitian,” tuturnya. Kelembagaan tersebut lanjutnya, adalah BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian). Di lembaga itu kini ada sekitar 300 penyuluh peneliti yang akan mendelevery hasil penelitian dengan menjadi jembatan kepada petani.

 

Agung mengatakan, dengan membangun kelembagaan seperti BPTP terbukti cukup efektif. Terbukti banyak hasil penelitian yang sudah dipakai masyarakat. Contohnya, varietas padi Ciherang yang kini hampir 70% ditanam petani.

 

Konsep kedua untuk mentransfer teknologi ungkap Agung adalah membuat laboratorium lapangan dengan membangun kawasan. Saat ini ada sekitar 12 laboratorium lapangan di seluruh Indonesia. “Di laboratorium tersebut diterapkan hasil penelitian bekerjasama dengan penyuluh pertanian, masyarakat dan pemerintah daerah,” katanya.

 

Pada tahun 2015 ini, Badan Litbang Pertanian dipercaya membangun Agro Techno Park di 15 provinsi. Pembangunan nantinya secara bertahap. Lokasinya bisa satu kecamatan atau beberapa kecamatan, satu Agro Techno Park.

 

Menurut Agung, dalam transfer teknologi bukan sekadar menyampaikan hasil penelitian. Tapi juga membangun tiga aspek. Pertama, software yakni hasil penelitian itu sendiri. Kedua, organoware yakni lembaga yang menyampaikan hasil penelitian. Sebab, untuk negara berkembang sulit mengharapkan petani untuk datang sendiri mencari teknologi baru.

 

Ketiga, humanware yakni pelaku atau orang yang menjelaskan hasil penelitian itu. Dalam hal ini adalah penyuluh pertanian. Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. “Salah satu negara yang sudah cukup berhasil adalah Thailand dengan metode REL (research extension linkage),” ujar Agung. Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066