• Search
  • Menu
Read Detail

Pabrikasi Pupuk Organik Berbasis Teknologi Zeolit

14:29 WIB | Tuesday, 05-August-2014

Penggunaan inovasi teknologi zeolit dalam skala pabrik untuk pemasyarakatan pupuk organik bisa menghemat pemakaian pupuk an-organik dalam jumlah besar. Dana untuk subsidi pupuk kimia bisa berkurang dan produktivitas tanaman pangan bisa ditingkatkan.

 

Direktur Pupuk dan Pestisida Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan, Muhrizal Sarwani mengatakan penggunaan zeolit yang dicampur dengan pupuk urea dan pupuk kimia lainnya bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia sekaligus bisa meningkatkan produksi pangan. “Sudah ada yang pakai inovasi teknologi zeolit seperti itu, meskipun kebanyakan untuk perkebunan,” tambah Muhrizal Sarwani kepada Sinar Tani.

 

Menurut Prof. Dr. Ir. Muhammad Al-Djabri, MS, Peneliti dari Badan Litbang Pertanian, pabrikasi pupuk organik berbasis inovasi teknologi zeolit sangat diperlukan Indonesia saat ini. “Pelaksanaan konsep pertanian organik belum 100% berhasil karena penyediaan pupuk organik untuk puluhan juta hektar yang jumlahnya bisa 20 kali lipat dari penggunaan pupuk anorganik masih menjadi kendala karena pengadaan pupuk organik harus diintegrasikan dengan pengembangan peternakan terutama ternak sapi,” jelas Muhammad Al-Djabri.

 

Indonesia telah menyadari kerusakan lingkungan tanah telah terjadi sejak lama dan harus dicegah. Kerusakan lingkungan tanah telah terjadi sejak Pembangunan Lima Tahun Pertama yang dimulai tahun 1968 sampai awal tahun jaman reformasi tahun 1998, yakni selama kurun waktu 30 tahun, maka rehabilitasinya memerlukan waktu yang relatif lama juga.

 

Kerusakan lingkungan tanah dicirikan kualitas tanah yang semakin memburuk seperti: (1) penurunan kandungan C-organik dari yang semula > 2% turun menjadi < 1%; (2) kerusakan sifat kimia tanah seperti kemasaman tanah cenderung meningkat (pH tanah turun) yang berpengaruh terhadap ketersediaan hara; (3) kerusakan sifat fisika tanah (tanah menjadi padat) karena kandungan C-organik tanah < 1% yang dapat menurunkan permeabelitas tanah karena BD tanah cenderung meningkat; (4) kerusakan sifat biologi tanah (populasi organisme tanah yang sangat bermanfaat untuk kesehatan tanah seperti cacing cenderung menurun); (5) pemberian pupuk TSP/SP-36 dalam jangka panjang meningkatkan residu unsur P tanah yang berasal dari pupuk berdampak negatif terhadap penurunan ketersediaan unsur mikro (Zn).

 

“Demikian juga, pemberian pupuk KCl dalam jangka panjang meningkatkan residu unsur K tanah yang berasal dari pupuk berdampak negatif terhadap penurunan ketersediaan unsur Mg,” jelasnya. Sebenarnya lanjut Al Djabri impor KCl yang harganya mahal dapat ditiadakan dan disubstitusi dengan memanfaatkan kompos jerami padi dan mineral feldspar sebagai alternatif sumber unsur K+.

 

Muhammad Al-Djabri mengungkapkan pemanfaatan campuran salah satu dua sumber unsur K+ (kompos jerami atau mineral feldspar) dikombinasikan dengan pupuk urea, pupuk SP-36, unsur mikro dan mineral zeolit secara proporsional dapat meningkatkan efisiensi serapan hara pupuk, memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah, sehingga kesehatan tanah dapat ditingkatkan.

 

Memang semasa orde reformasi (tahun 1998–2014) kebijakan pertanian mulai menerapkan konsep pertanian organik. Namun jika luas panen tanaman pangan 10 juta hektar saja/tahun maka bahan organik yang diperlukan sekitar 100 juta ton/tahun. Sebaliknya jika pupuk anorganik saja yang diberikan maka pupuk anorganik (urea-SP36-KCl) yang diperlukan sekitar 5 juta ton. Hanya saja, pertanian organik ini sulit dilakukan karena kesulitan pupuk organiknya. Sedangkan penggunaan pupuk kimia pemerintah sedang mengalami kesulitan untuk mengadakan anggaran subsidinya.

 

Menurut penelitian Muhammad Al-Djabri dengan menerapkan konsep pertanian organik berbasiskan teknologi zeolit sebagai pembenah tanah alternatif dan pendirian pabrik pupuk lepas lambat yang dikuasai oleh pemerintah bisa menghemat dana subsidi. Pemupukan anorganik (kimia) yang menggunakan urea-SP36-KCl masih dipertahankan, tetapi dosisnya dikurangi 30% sampai 50% dengan tambahan inovasi teknologi zeolit.

 

Ditegaskan oleh Al-Djabri dengan konsep pertanian organik berbasiskan teknologi zeolit bukan berarti pupuk anorganik sama sekali tidak diberikan, tetapi dosisnya dikurangi dan dikombinasikan dengan teknologi zeolit. Saat ini, dengan dicanangkan konsep pertanian organik, banyak pihak swasta memproduksi pupuk organik yang legalisasinya telah dilakukan, tetapi banyak pupuk organik palsu yang beredar di pasar.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Julianto